Lolos Tes Psikologi Belum Tentu Mudah Dapat SIM

Kompas.com - 09/03/2020, 11:12 WIB
Aiptu Jailani (tengah) saat memberi pelatihan kepada pemohon SIM di halaman Satlantas Polres Gresik, Jumat (16/11/2018). KOMPAS.com/HAMZAH Aiptu Jailani (tengah) saat memberi pelatihan kepada pemohon SIM di halaman Satlantas Polres Gresik, Jumat (16/11/2018).
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Di beberapa daerah, seperti DKI Jakarta salah satunya, pemohon SIM baru sudah diwajibkan mengikuti tes psikologi. Secara umum, psikotes bertujuan untuk mengetahui karakter seseorang saat mengemudikan kendaraan di jalan.

Kepolisian menyediakan tes psikologi di lokasi Satuan Penyelenggara Administrasi (Satpas) SIM. Namun pemohon SIM juga bisa mengikuti tes psikologi di luar atau lembaga manapun, nantinya hasil tes tersebut dilampirkan sebagai syarat pembuatan SIM baru.

Training Director The Real Driving Center (RDC) Marcell Kurniawan, mengatakan, tes psikologi sebetulnya penting bagi pengemudi.

Baca juga: Resmi, Truk ODOL Tak Boleh Melintas Tol Jakarta-Bandung

Pos tes psikologi di Satpas SIM Daan Mogot, Jakarta Barat. Foto diambil Kamis (21/6/2018).RIMA WAHYUNINGRUM Pos tes psikologi di Satpas SIM Daan Mogot, Jakarta Barat. Foto diambil Kamis (21/6/2018).

Tes ini dapat menangkap beberapa parameter yang bisa disesuaikan, untuk mengetahui karakter seseorang saat mengemudikan kendaraan. Meski begitu, psikotes tidak menentukan seseorang bakal lebih mudah mendapatkan SIM.

“Setiap jenis uji memiliki bobot nilai masing-masing, belum tentu lolos psikotes lebih mudah dapat SIM,” ujar Marcell kepada Kompas.com (8/3/2020).

“Bisa saja psikotes lulus namun di tes praktik tidak lulus. Karena tes praktik bobotnya jauh lebih besar dan akhirnya nilai minimal tidak tercapai,” katanya.

Baca juga: Orang Luar Negeri Kaget Indonesia Bisa Bikin Bus Bagus

Pemohon SIM dan yang akan melakukan perpanjangan diwajibkan mengikuti tes psikologi. satlantas polresta surakarta Pemohon SIM dan yang akan melakukan perpanjangan diwajibkan mengikuti tes psikologi.

Menurutnya, bobot nilai psikotes sama dengan tes kesehatan yang menilai kesehatan pemohon SIM, seperti memiliki penglihatan yang baik dan tidak buta warna.

“Karena yang namanya sehat kan harus jasmani dan rohani, nah dengan adanya psikotes mungkin mau melihat sisi kesehatan rohani dari seseorang,” ucap Marcell.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X