Kompas.com - 15/11/2019, 09:42 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com – Kecelakaan terjadi di Tol Cipali Km 117 yang melibatkan bus Sinar Jaya dan bus Arimbi pada Kamis (14/11/2019) dini hari. Kecelakaan itu mengakibatkan tujuh orang meninggal dunia, empat korban luka berat, dan lima korban luka ringan.

Peristiwa ini langsung mendapat sorotan dari Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan, yang juga menjabat Direktur Utama PT San Putra Sejahtera. Ia tak mengingkari jika kecelakaan bus banyak disebabkan oleh faktor manusia.

“Tak bisa dipungkiri, kadang jadi faktor yang cukup besar. Tapi sebagai pengguna jalan dan operator bus menurut saya perlu ada separator permanen di tengah jalan,” ujarnya saat ditemui, Kamis (14/11/2019).

Baca juga: Fakta Kecelakaan Bus di Tol Cipali, Diduga Sopir Lalai hingga 7 Orang Tewas

Ilustrasi kecelakaan bus di jalan bebas hambatan. Sumber: Shutterstock Ilustrasi kecelakaan bus di jalan bebas hambatan. Sumber: Shutterstock

Sani mengatakan, kejadian masuknya kendaraan melewati median jalan di tol Cipali sudah beberapa kali terjadi. Separator dari bahan kawat baja menurutnya tak cukup mampu menahan mobil yang melaju kencang.

Kondisi median jalan dengan kontur tanah lembek yang agak menurun di tengah (cekungan), juga tidak efektif karena makin padat. Lantaran kondisi permukaan median jalan yang telah mengeras karena faktor musim kemarau panjang yang terjadi belakangan ini.

“Akhirnya kendaraan yang masuk median jalan tidak dapat tertahan, melainkan langsung melaju ke jalan dari arah berlawanan,” ucap Sani.

Baca juga: Kronologi Kecelakaan Bus di Tol Cipali yang Tewaskan 7 Orang

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan, yang juga menjabat Direktur Utama PT San Putra SejahteraKOMPAS.com/Dio Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan, yang juga menjabat Direktur Utama PT San Putra Sejahtera

Meski begitu, ia juga selalu mengingatkan pengemudi untuk menyetir sesuai dengan trayeknya. Seperti diketahui, dalam dunia bus dikenal istilah driver pinggir dan diriver tengah.

Dua pengemudi ini saling bergantian membawa bus, selagi salah satu driver mengemudi, biasanya driver satu lagi istirahat di tempat yang sudah disediakan.

“Jadi misalnya ada bus Wonogiri-Jakarta, driver pinggir itu bawa mobil dari Wonogiri sampai sekitar Gringsing. Driver tengah melanjutkan dari Gringsing sampai Subang atau Cipali,” katanya.

“Nanti driver pinggir yang sudah istirahat, melanjutkan lagi sampai Jakarta. Jadi kondisi pengemudi selalu sigap dan tidak mengantuk,” ujar Sani.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.