Pertebal Rasa Malu Bisa Wujudkan Lalu Lintas Humanis

Kompas.com - 21/06/2019, 07:22 WIB
Kemacetan di ruas Tol Jakarta-Cikampek, Senin (10/6/2019). Johanes E NajoanKemacetan di ruas Tol Jakarta-Cikampek, Senin (10/6/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Lalu lintas Jakarta disebut sebagai salah satu yang paling padat di dunia. Tak pelak pada jam sibuk mudah terjadi gesekan, bahkan tidak sedikit pula yang meluapkan emosi dengan mencaci-maki hingga berkelahi di jalan.

Edo Rusyanto, Koordinator Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman), mengatakan, entah itu pengemudi mobil maupun pengendara sepeda motor, bahwa ada hak dan kewajiban di setiap pengguna jalan dalam mewujudkan lalu lintas yang humanis.

Baca juga: Harley-Davidson Gandeng Pabrikan Cina, Produksi Motor cc Kecil

"Kita tahu bahwa semua pengguna jalan ingin aman, nyaman, dan selamat. Sudah selayaknya menempatkan diri sesuai porsi masing-masing. Lalu lintas jalan yang beradab. Manusia punya akal sehat dan nurani. Sepatutnya kedua hal itu diterapkan termasuk saat berlalu lintas jalan," kata Edo kepada Kompas.com, belum lama ini.

Jalur arteri Karawang masih macet sebagai imbas pelaksanaan one way di jalur tol, Senin (10/6/2019).KOMPAS.com/FARIDA FARHAN Jalur arteri Karawang masih macet sebagai imbas pelaksanaan one way di jalur tol, Senin (10/6/2019).

Edo mengatakan, dalam mewujudkan lalu lintas yang humanis, maka diperlukan sikap saling menghargai, berbagi ruas jalan, dan menaati aturan di jalan. Sebab menaati aturan yang ada merupakan salah satu simbol manusia beradab.

"Kita tak ingin merusak sisi kemanusiaan demi kepentingan pribadi. Apalagi merampas hak orang lain. Hak pejalan kaki berjalan di trotoar dan menyeberang di zebra cross. Begitu juga hak pesepeda motor dan pengendara mobil untuk melintas di jalan raya," katanya.

Baca juga: Ubahan Honda Accord Terbaru

Edo mengatakan, sepatutnya tiap pengendara mempertebal rasa malu untuk merampas hak orang lain. Sebab macet merupakan risiko berkendara di kota yang padat penduduk. Setiap pengendara punya kontribusi atas kemacetan yang terjadi.

"Tampaknya memang butuh mempertebal rasa sabar. Mari meredam emosi agar tak menggelegak dengan cara berpikir posifif, memprioritaskan keselamatan, bertindak tenang, dan mendoakan hal-hal yang baik," katanya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku
Komentar


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X