Efek Buruk Mobil Euro IV Konsumsi BBM dengan Ron Rendah

Kompas.com - 29/10/2018, 07:02 WIB
Mesin Toyota All-New Kijang Innova dikirim dari pabrik Toyota Motor Manufacturing (TMMIN) di Sunter. Febri Ardani/KompasOtomotifMesin Toyota All-New Kijang Innova dikirim dari pabrik Toyota Motor Manufacturing (TMMIN) di Sunter.

JAKARTA, KOMPAS.com - Seluruh mobil baru yang diproduksi dan dipasarkan di Indonesia, mulai Oktober 2018 dengan mesin bensin, wajib memiliki standar emisi gas buang Euro IV. Artinya penggunaan bahan bakar minyak ( BBM) harus lebih tinggi dibanding mobil Euro II.

Apabila mengacu pada Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 Tahun 2017 tentang baku mutu emisi gas buang kendaraan, cetus api (bensin) dengan parameter: RON minimal 91, kandungan timbal (Pb) minimum tidak terdeteksi dan kandungan sulfur maksimal 50 ppm.

Khusus produk Pertamina, hanya Pertamax Turbo yang memiliki spesifikasi tersebut. Paling utama, yaitu kandungan sulfur bahan bakar tersebut di bawah 50 ppm.

Perlu diketahui bahwa penyebaran Pertamax Turbo pun belum merata di Indonesia. Pertamina pun mengakui bahwa ketersediaan BBM tersebut baru di sekitar Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Baca juga: Pertamina Cuma Punya Pertamax Turbo buat Mobil Euro IV

Lantas, bagaimana jika pemilik mobil tersebut mengisi BBM dengan spesifikasi di bawah itu, seperti Pertalite atau Pertamax?

Menurut Sapta Agung Nugraha, Service Head Auto2000 cabang Pramuka, mesin Euro IV semestinya menggunakan BBM RON di atas 95, untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Hal tersebut dikarenakan kompresi tinggi, yaitu 11:1, sehingga pembakaranya lebih sempurna.

"Sehingga dengan RON di atas 95  akan lebih mudah mendapatkan performa maksimal, lebih irit dan dalam jangka waktu panjang menghindari ruang bakar terjadi kerak karbon yang banyak," ujar Sapta kepada Kompas.com, Minggu (28/10/2018).

Baca juga: Gaikindo Pertanyakan Ketersediaan BBM untuk Euro IV

Sapta melanjutkan, jika dipaksa mengkonsumsi BBM di bawah itu maka akan ada efek buruk, terutama buat jangka waktu yang panjang.

"Pembakaran menjadi kurang maksimal, dan jangka panjangnya bisa timbul kerak karbon yang lebih banyak, sehingga yang dirasakan mesin menjadi ngelitik (knocking) dan boros BBM," kata Sapta.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X