Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Era Kendaraan Listrik Jadi "Pil Pahit" Pertamina?

Kompas.com - 07/02/2018, 07:02 WIB

Singapura, KOMPAS.com — Pemerintah Indonesia sedang menyiapkan regulasi untuk kendaraan listrik. Bahkan, dalam peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), disebut bahwa pada 2025 setidaknya ada 2.200 kendaraan hibrida atau listrik di Tanah Air.

Bukan hanya pemerintah, para produsen otomotif pun sudah mulai bersiap-siap untuk menjual kendaraan dengan bahan bakar alternatif dan ramah lingkungan.

Apabila era kendaraan listrik sudah berkembang di Tanah Air, apakah akan menjadi "pil pahit", buat PT Pertamina (Persero) sebagai perusahaan pertambangan minyak dan gas bumi?

Menurut Senior Vice President Research & Technology Center PT Pertamina (Persero) Herutama Trikoranto, pihaknya tetap harus realistis dengan perkembangan zaman dan teknologi. Apalagi, sejalan dengan kesadaran global mengenai pelestarian lingkungan mengurangi emisi gas buang, dan lain sebagainya.

Baca juga: Pertamina Tertarik Bikin SPLU di Setiap SPBU

"Kami harus mengikuti perkembangan industri global," kata Herutama ketika ditemui di acara Nissan Futures di kawasan Marina Bay Sands, Singapura, Selasa (6/2/2018).

Meski pada masa mendatang permintaan bahan bakar minyak (BBM) akan berkurang, Herutama menganggap masih ada peluang di sektor lain, terutama bisa memenuhi industri petrokimia.

"Indonesia ini sudah masuk negara industri, tetapi kebutuhan petrokimianya masih impor. Itu juga peluang buat kita pada masa yang akan datang," ucap Herutama.

Baca juga: Perpres Kendaraan Listrik Dipastikan Rampung Pekan Ini

Peluang lain, lanjut Herutama, Pertamina juga ingin tetap berperan di era kendaraan listrik. Tentunya, dengan sumber daya alam yang ada, misalnya menyediakan tempat pengisian daya baterai dan lain sebagainya.

"Itu merupakan sesuatu yang baru dan banyak peluang. Kami juga menganggap semua ini tidak masalah," kata dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.