Ikut China, India Mulai Mendorong Mobil Lisrik - Kompas.com

Ikut China, India Mulai Mendorong Mobil Lisrik

Ghulam Muhammad Nayazri
Kompas.com - 10/05/2017, 17:42 WIB
Reuters Mobil listrik Mahindra e20.

New Delhi, KompasOtomotif – Beberapa penasihat pemerintah yang berpengaruh di India mengajukan rekomendasi, untuk menurunkan pajak dan suku bunga pinjaman untuk kendaraan listrik. Sedangkan di lain sisi, penjualan mobil konvensional akan terasa diberatkan.

Mengutip Reuters, Rabu (10/5/2017) berdasarkan draft blue-print, yang sudah dibaca oleh pihak redaksi Reuters, pemerintah didorong untuk membangun pabrik baterai sampai akhir 2018, dan menggunakan pendapatan pajak dari penjualan kendaraan bensin dan diesel, untuk memasang stasiun pengisian kendaraan listrik. Bahkan teknologi mobil hibrida rencananya akan dilompati.

Badan Perencanaan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Narendra Modi, diarahkan untuk menggerakkan semua armada pemerintahan menggunakan mobil listrik pada 2032 dan kemungkinan akan membentuk kebijakan mobilitas baru.

Fokus laporan semata-mata ditujukan kepada kendaraan listrik, yang bakala menandai sebuah pergeseran dari kebijakan saat ini, yang mendorong dua jenis kendaraan, hibrida dan mobil listrik, dan mengkhawatirkan beberapa pembuat mobil.

Di salah satu bagian draft berjudul “Transformative Mobility Solutions for India” tertulis, India berpotensi untuk menciptakan paradigma mobilitas baru yang saling berbagi, listrik dan sebuah solusi (connected) bisa memberikan dampak signifikan di dalam negeri dan global.

Rencana India untuk melompati teknologi hibrida, datang setelah China mengumumkan langkah-langkah agresif tahun lalu, dalam mendorong penjualan kendaraan plug-in termasuk pemberian subsidi, pendanaan penelitian, serta melahirkan aturan untuk mengurangi mobil berbahan bakar fosil di kota-kota besar.

Ini juga akan menandai respons radikal oleh India, karena tampaknya akan memotong tagihan impor minyak sekitar setengahnya pada 2030, dan juga mengurangi emisi udara sebagai bagian dari komitmennya terhadap perjanjian iklim Paris.

"Jika kami mempercepat pertumbuhan kendaraan listrik, ini akan menjadi gangguan bagi sektor otomotif dan akan memerlukan investasi, tapi jika kami tidak dapat beradaptasi dengan cepat, India akan berisiko menjadi importir baterai,” ujar sumber Reuters yang ikut dalam pembahasan tersebut.

PenulisGhulam Muhammad Nayazri
EditorAgung Kurniawan
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM