Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Korban Google Maps, Warga Bekasi Tersasar di Hutan Wonosobo

Kompas.com - 06/01/2024, 06:22 WIB
Aprida Mega Nanda,
Agung Kurniawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Tak sedikit pengemudi yang menggunakan aplikasi peta atau navigasi ketika menuju suatu lokasi, terlebih saat berkendara jarak jauh atau ke daerah yang belum pernah dilewati.

Meskipun dirancang untuk menampilkan rute terbaik, namun tak jarang peta digital mengalami kesalahan, seperti memberikan rute yang kurang tepat atau kurang sesuai dalam menentukan titik lokasi. Hal seperti ini membuat penggunanya menjadi sering tersesat.

Seperti yang dialami oleh dua mobil yang berisi warga Bekasi yang tersesat di hutan Wonosobo pada Kamis (6/1/2024).

Baca juga: Diskon Mazda 2 Sedan Awal Tahun Tembus Rp 30 Juta

Kejadian bermula saat wisatawan dari luar daerah ini hendak berlibur di Wonosobo dengan tujuan Dieng. Karena tidak hafal dengan rute yang dilalui, para wisatawan itu mengandalkan Google Maps untuk navigasi menuju lokasi.

“Sesampainya di Desa Tlogojati Kecamatan Wonosobo, mobil masuk ke jalur perkebunan, dan mobil satu mengalami trouble ban selip, mobil dua mengalami pecah ban,” ucap Kepala BPBD Kabupaten Wonosobo, Dudy Wardoyo, dikutip dari Kompas.com, Jumat (5/1/2024).

Ilustrasi GPSshutterstock Ilustrasi GPS

Kejadian yang menimpa warga asal Bekasi tersebut nyatanya juga sering dialami oleh pengguna aplikasi peta lainnya.

Training Director The Real Driving Center (RDC) Marcell Kurniawan mengatakan, hal utama yang harus dipersiapkan jika bepergian menggunakan aplikasi peta adalah mengecek terlebih dahulu rute yang disarankan.

“Bila akan menempuh perjalanan jauh dan mengandalkan aplikasi peta, H-1 sebelum keberangkatan pengemudi sebaiknya mempelajari dan melihat kondisi melalui foto lokasi yang tersedia di aplikasi,” ucap Marcell.

Baca juga: Restorasi Toyota FJ45 Land Cruiser 1983 Tampil Klimis

Kemudian, jangan lupa untuk update informasi melalui aplikasi peta yang ada saat istirahat.

“Ketika sudah di perjalanan dan sedang istirahat, lihat lagi rutenya, diarahkan ke mana. Kemudian bila rute yang disarankan berubah, segera pelajari lagi,” kata dia.

Lebih lanjut lagi, Marcell menyarankan, bila masuk ke daerah dengan sinyal yang minim, jangan andalkan aplikasi.

“Coba untuk bertanya arah dengan orang sekitar, agar tidak tersesat,” ucapnya.

Sementara itu, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana menambahkan, aplikasi petunjuk jalan seperti Google Maps atau peta digital lainnya, sebaiknya digunakan pengemudi sebagai referensi saja.

“Aplikasi penunjuk arah sebaiknya digunakan sebagai referensi agar lebih mudah, dekat, aman dan arahnya jelas. Tidak disarankan mengandalkan 100 persen, karena nomor satu pengemudi harus paham dengan detail lokasinya,” ucap Sony.

Baca juga: BYD Seal dan Atto 3 Tertangkap Kamera di Tol JORR, Sedang Dikirim

Menurut Sony, hanya pengemudi pemula saja yang mengandalkan aplikasi seperti itu. Pasalnya, jika sudah banyak pengalaman biasanya dalam mengambil keputusan akan banyak pertimbangan.

“Berikutnya pengemudi sebaiknya tidak memaksakan diri. Artinya, kalau memang jalan tersebut tidak layak, ya jangan diteruskan. Kontak yang bersangkutan untuk minta supaya pertemuannya di geser ke area yang lebih aman,” kata Sony.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com