Kompas.com - 27/08/2022, 12:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus penganiayaan di jalan raya akhir-akhir ini kerap terjadi. Pertama ada pemukulan yang dilakukan pria ke wanita saat mengantre di SPBU di daerah Palembang.

Selain itu, ada juga kejadian pengemudi mobil yang cekcok dengan pramudi Transjakarta dan berujung menampar pengemudi bus. Sebenarnya hal seperti ini malah membuat rugi si pelaku.

Misal, pemukul wanita di Palembang dijadikan tersangka dan dipecat dari Partai Gerindra. Kemudian untuk pelaku penampar pramudi bus sudah dilaporkan ke Kepolisian dan sedang diperiksa.

Baca juga: Pemukulan di SPBU, Arogansi dan Emosi Saat Antre Picu Perselisihan

Sebuah video singkat menunjukkan seorang sopir bus transjakarta terlibat cekcok dengan seorang pria tak dikenal beredar di media sosial, Kamis (25/8/2022). Video dengan durasi belasan detik itu diunggah akun Twitter @ganarmdhn pada Kamis sekitar pukul 23.18 WIB.Tangkapan Layar/TWITTER Sebuah video singkat menunjukkan seorang sopir bus transjakarta terlibat cekcok dengan seorang pria tak dikenal beredar di media sosial, Kamis (25/8/2022). Video dengan durasi belasan detik itu diunggah akun Twitter @ganarmdhn pada Kamis sekitar pukul 23.18 WIB.

Menurut Sony Susmana, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia, road rage atau emosi di jalan terjadi akibat adanya masalah pada si pelaku.

"Orang yang bermasalah akal sehatnya lagi drop, sehingga kerap melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji," ucap Sony kepada Kompas.com, Sabtu (28/8/2022).

Sony mengatakan, emosi di jalan cuma melampiaskan masalah yang ada di dirinya dan mengabaikan bahaya serta risiko. Seharusnya pengguna jalan bisa mengendalikan emosinya dengan baik saat mau mengemudi.

Baca juga: Tabrak Truk, Porsche Hangus Terbakar dan Pengemudi Tewas di Tol Jagorawi

Ada beberapa kerugian yang harus diketahui kalau ingin melampiaskan emosi di jalan raya. Pertama adalah malu karena pada akhirnya banyak yang melihat dan menilai perbuatan yang tidak terpuji tadi.

"Suatu saat akan berurusan dengan hukum apabila ada korban yang dirugikan," kata Sony.

Selain itu, kelakuan emosi ini jika dibiarkan bisa membuat mental pengemudi buruk permanen. Belum lagi karena perilaku tersebut bisa meningkatkan risiko kecelakaan di jalan.

"Road rage membuat gaya mengemudi jadi agresif dan boros bahan bakar. Kendaraannya juga jadi cepat rusak," ucapnya.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.