Ongkos Angkut Barang di Indonesia Masih Tidak Punya Standar

Kompas.com - 24/02/2022, 17:21 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Awal pekan ini terjadi demonstrasi yang dilakukan pengemudi truk mengenai penolakan aturan Zero Over Dimension dan Over Loading (ODOL) yang direncanakan berlaku 2023.

Salah satu tuntutan dari sopir truk saat demonstrasi tersebut adalah tidak adanya standar dari upah angkut barang. Bahkan yang terjadi di lapangan adalah maraknya persaingan tidak sehat antar pengusaha truk.

Sayangnya, pemilik barang kebanyakan saling membandingkan para pengusaha truk, siapa yang berani memberi biaya paling murah dengan membawa muatan paling banyak.

Oleh karena itu, sering juga ditemui truk yang dimensinya ditambah agar bisa memuat lebih banyak dengan biaya seminimal mungkin.

Baca juga: Skema Pembagian Ongkos Angkut antara Pengemudi dan Pemilik Truk

Ratusan sopir truk Eks Karesidenan Pati dengan menumpang armadanya menggelar aksi unjuk rasa menolak kebijakan over dimension and overloading (ODOL) di jalur Pantura Kudus, Jawa Tengah, Selasa (22/2/2022) pagi sekitar pukul 09.30.DOKUMEN POLRES KUDUS Ratusan sopir truk Eks Karesidenan Pati dengan menumpang armadanya menggelar aksi unjuk rasa menolak kebijakan over dimension and overloading (ODOL) di jalur Pantura Kudus, Jawa Tengah, Selasa (22/2/2022) pagi sekitar pukul 09.30.

Salah satu hal yang bisa menghentikan persaingan tidak sehat ini adalah dengan memberikan standar ongkos angkut barang yang pasti.

Memang, Kementerian Perhubungan sudah membuat PM 60 Tahun 2019 yang di dalamnya ada pedoman formula tarif angkutan barang.

Tertulis pada pasal 61 dan 62, ada beberapa faktor yang memengaruhi besarnya tarif. Misalnya seperti berat, jenis muatan dan jarak pengiriman. Selain itu ada juga biaya tetap dan tidak tetap.

Gemilang Tarigan, Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) mengatakan, memang sudah ada pedoman melalui PM 60 Tahun 2019, tapi itu jarang dilihat oleh pemilik barang.

Baca juga: Hyundai Patenkan Teknologi Pintu Belakang Model Geser ke Atas

“Dia (pemilik barang) bilang ribet begini. Meskipun dia tanya, berapa ongkos angkutnya, dia maunya yang sederhana saja,” ucap Gemilang kepada Kompas.com, Rabu (23/2/2022).

Kemudian, jika sudah dapat berapa ongkosnya, Gemilang mengatakan kalau si pemilik barang akan mengadu dengan pengusaha truk lain. Oleh karena itu, para pengusaha ini saling memberikan harga paling murah, persaingan jadi tidak sehat.

“Pemilik barang bisa bilang, kalau enggak mau ambil ya tinggal saja. Dia bilang masih ada pengusaha truk lain yang mau ambil,” kata Gemilang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.