Perbandingan Emisi Gas Buang Kendaraan Listrik dengan Konvensional

Kompas.com - 25/11/2021, 15:01 WIB
Mobil listrik KOMPAS.com/STANLY RAVELMobil listrik
|

TANGERANG, KOMPAS.com – Mobil dan motor listrik mulai banyak tersedia dan jadi pilihan buat masyarakat. Namun masih banyak yang ragu soal emisi gas yang dihasilkan rantai pasok kendaraan listrik.

Meskipun hadir tanpa emisi gas buang, mobil dan motor listrik dipandang sebelah mata karena mendapat pasokan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan batu bara.

Namun demikian, secara keseluruhan perbandingan emisi kendaraan listrik diklaim tetap lebih bersih dibandingkan kendaraan konvensional.

Baca juga: Transmisi CVT New Avanza Beda dengan CVT Lainnya

Ilustrasi polusi yang dikeluarkan knalpot kendaraan.Paultan.org Ilustrasi polusi yang dikeluarkan knalpot kendaraan.

As Natio Lasman, Anggota Dewan Energi Nasional, mengatakan, CO2 yang dikelurkan kendaraan listrik meski menggunakan listrik dari PLN jauh lebih rendah.

"CO2 yang dirilis dari kendaraan biasa dengan bahan bakar minyak itu untuk jarak 19.000 km mencapai 4.100 kg CO2 yang dirilis,” ujar As Natio dalam acara talk show pada IEMS 2021 di Serpong, Tangerang (24/11/2021)

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Sementara untuk kendaraan listrik tetapi menggunakan PLN, diperhitungkan 1.300 kg. Sementara satu lagi memanfaatkan teknologi terbarukan dengan solar cell ini tidak ada CO2 yang dirilis," kata As Natio, yang pernah menjabat Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir ini.

Baca juga: Ada Oknum Nakal Modus Sewa Kendaraan di Bali, Cek Kendaraan Dahulu

Ilustrasi platform mobil listrik HyundaiKOMPAS.com/DIO DANANJAYA Ilustrasi platform mobil listrik Hyundai

Menurutnya, pada saat ini kendaraan listrik menjadi solusi untuk menyelamatkan lingkungan. Penggunaan kendaraan listrik dapat secara signifikan mengurangi emisi karbon dari sektor transportasi.

Bahkan, kendaraan listrik juga menjadi solusi meningkatkan ekonomi. Dengan penerapan kendaraan listrik, impor migas akan ditekan.

"Neraca perdagangan Indonesia dipengaruhi oleh defisit perdagangan migas yang terus meningkat sejak menjadi net oil importer pada 2004," tuturnya.

Baca juga: Kesulitan Jual Motor Listrik di Indonesia

Uji emisi kendaraan roda empat di Depok, Selasa (16/11/2021). Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok memberikan layanan uji emisi kendaraan roda empat secara gratis selama tiga hari ke depan.KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO Uji emisi kendaraan roda empat di Depok, Selasa (16/11/2021). Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok memberikan layanan uji emisi kendaraan roda empat secara gratis selama tiga hari ke depan.

Di samping itu, As Natio mengatakan bahwa Indonesia berpotensi menjadi pemain besar industri kendaraan listrik.

Pasalnya, sumber daya mineral Indonesia melimpah, terutama untuk nikel sehingga memberikan peluang besar untuk terjun ke value chain industri baterai dan kendaraan listrik.

"Indonesia merupakan salah satu produsen bijih nikel terbesar dan juga memiliki cadangan nikel terbesar di dunia," kata As Natio.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.