Ini 2 Aspek Penyebab Kecelakaan Fatal di Jalan Tol

Kompas.com - 17/06/2021, 06:38 WIB
Tumpahan botol plastik mineral dalam kecelakaan tol di Slipi, Jakarta Barat, Senin (2/12/2019) KOMPAS.com/ BONFILIO MAHENDRA WAHANAPUTRA LADJARTumpahan botol plastik mineral dalam kecelakaan tol di Slipi, Jakarta Barat, Senin (2/12/2019)
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Kecelakaan di ruas jalan tol memiliki risiko yang lebih tinggi ketimbang jalan raya. Di mana seringkali menimbulkan korban meninggal di lokasi kejadian.

Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana, mengatakan, kecelakaan fatal di jalan tol cukup tinggi disebabkan dua faktor utama.

Pertama, adalah kurang tegasnya penegakan hukum terhadap pelanggar lalu lintas selama ini. Selain itu juga cara berkendara yang semakin mengesampingkan aspek keselamatan.

Baca juga: Konsumsi BBM Kia Sonet 7-Seater Saat Digunakan di Dalam Kota

Pantauan lalu lintas di jalan tolDOC DITJEN PERHUBUNGAN DARAT Pantauan lalu lintas di jalan tol

“Jumlah kecelakaan lalu lintas dari tahun ke tahun naik turun, tapi fatalitasnya bertambah, ini terjadi akibat dari dua hal, pertama kurang tegasnya penegakan hukum dan cara pengemudi dalam berpikir (artinya mengutamakan ego dengan mengesampingkan keselamatan atau nyawa),” kata Sony kepada Kompas.com, belum lama ini.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Salah satu tolok ukur kurang tegasnya penindakan yaitu di mana masyarakat yang melakukan pelanggaran justru berani berdebat, bahkan hingga main fisik terhadap petugas.

“Kita lihat belakangan ini, banyak sekali postingan-postingan di media-media sosial, masyarakat sebagai pelanggar kadang dilepaskan dengan pertimbangan sosial, kadang berani berdebat, kadang memaki-maki bahkan main fisik dengan petugas,” ujarnya.

Menurut Sony, hal itu menjadi preseden buruk dalam pembelajaran dan penegakan hukum. Sebab dengan demikian petugas akan dianggap sebelah mata.

“Memang terlihat sepele, tapi dampaknya besar, terhadap perilaku pengemudi ke depannya. Itu kenapa semakin hari pengemudi semakin berani di jalan raya, karena ada celah untuk berulah, toh nanti bisa minta maaf atau damai,” katanya.

Baca juga: Begini Teknik Pengereman Motor Matik yang Benar

Mazda CX-5 milik Ronald Touwani yang mengalami kecelakaan di tol Semarang-Solo.Istimewa Mazda CX-5 milik Ronald Touwani yang mengalami kecelakaan di tol Semarang-Solo.

Kemudian faktor kedua, yaitu perilaku pengemudi yang meremehkan aspek keselamatan saat berkendara.

“Banyak pengemudi yang merasa kepentingan dia paling nomor satu yang lain diabaikan, akibat perilakunya nyawa orang lain tidak dipikirkan,” ucapnya.

Sony mengatakan, minimnya edukasi berkendara di jalan tol juga jadi salah satu faktor. Sebab mengemudi di jalan tol berbeda dengn di jalan umum perkotaan.

“Kurangnya edukasi berkendara yang aman kadang membawa permasalahan keluarga ke jalan raya. Di perusahaan asing atau migas, tingkat kecelakaannya zero, karena setiap tahun mereka wajib mengulang safety working-nya,” kata Sony.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X