Kapan Harga Mobil Listrik Bisa Lebih Murah Seperti Mobil Konvensional?

Kompas.com - 31/05/2021, 16:41 WIB
Review Hyundai Kona Electric. SUV berpenggerak listrik dari Hyundai dengan banderol Rp 600 juta-an Kompas.com / Setyo AdiReview Hyundai Kona Electric. SUV berpenggerak listrik dari Hyundai dengan banderol Rp 600 juta-an
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Harga mobil listrik saat ini masih terbilang mahal bagi banyak orang. Salah satu hal yang membuat mahalnya mobil listrik adalah tingginya harga baterai.

Banyak kalangan mengatakan, separuh dari harga mobil listrik ialah harga baterainya. Jadi jika harga mobil listrik Hyundai Kona EV saat ini dibanderol Rp 700 jutaan, maka harga baterainya sekitar Rp 350 jutaan.

Lantas, kapan harga mobil listrik menjadi lebih murah seperti harga mobil konvensional pada umumnya?

Baca juga: Kesalahan Pengendara Mobil Matik di Jalan Menanjak

Ilustrasi mobil listrik Hyundai Kona EV tengah diisi ulang dayanya.UNPLASH.com Ilustrasi mobil listrik Hyundai Kona EV tengah diisi ulang dayanya.

Muhammad Nur Yuniarto, Ketua Laboratorium Mobil Listrik Nasional ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember), mengatakan, hal tersebut bisa terjadi ketika bisnis model mobil listrik semakin berkembang.

Hal ini tentu saja harus sejalan dengan meningkatnya penjualan mobil listrik nasional, yang saat ini masih sangat kecil volumenya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Untuk saat ini kan orang masih harus membeli baterai full. Sehingga harganya jadi mahal,” ujar Nur, dalam webinar yang disiarkan Youtube LBMM ITS (29/5/2021).

Baca juga: Hasil Klasemen MotoGP 2021 Usai GP Italia, Quartararo Tetap di Puncak

Ilustrasi baterai mobil listrik LG Chemhttps://www.caixinglobal.com/ Ilustrasi baterai mobil listrik LG Chem

“Tapi kalau industri recylce baterai dan industri second life baterai muncul, mungkin harga mobil listrik, harga baterainya itu bisa 50 persen saja,” kata pria yang berprofesi sebagai dosen dan peneliti ITS ini.

Nur menjelaskan, sebagai ilustrasi Tesla yang harganya Rp 500 jutaan di AS, kalau harga baterainya saja seharusnya Rp 250 juta, tapi karena industri recycle baterai muncul, harga baterai bisa turun menjadi Rp 125 juta.

“Maka harganya menjadi Rp 250 juta ditambah Rp 125 juta, sekitar Rp 300 jutaan. Ini yang nanti betul-betul merevolusi,” ucap dia.

Baca juga: Tarif PO Murni Jaya dari Jakarta Menuju Jateng-DIY Mulai Juni 2021

Rangka dan baterai pada mobil listrik murni Toyota, Lexus UX 300e.Toyota Rangka dan baterai pada mobil listrik murni Toyota, Lexus UX 300e.

Menurutnya, industri recycle baterai dan industri second life baterai sangat mungkin muncul ketika baterai mobil listrik telah menjadi limbah. Harusnya akan ada perusahaan yang mengolah limbah tersebut.

“Baterai suatu saat, setelah berapa puluh ribu cycle, mungkin tidak bisa dipakai lagi untuk kendaraan listrik. Terus mau dipakai untuk apa kalau tidak bisa dipakai?” ujar Nur.

“Dipakai untuk stasiun atau renewable energy storage. Itu kalau dipakai misalnya baterai untuk solar panel, itu umurnya masih tak terhingga. Bisa puluhan tahun. Baru nanti setelah pensiun dari renewable energy, baru di-recycle,” tuturnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X