Minim Sopir, Alasan Klasik Angkutan Barang Sering Kecelakaan

Kompas.com - 20/04/2021, 19:01 WIB
Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Sambodo Purnomo Yogo meninjau langsung kecelakaan yang terjadi di Jalan Gelora II, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Sabtu (27/3/2021) malam. Dok. Polda Metro JayaDirektur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Sambodo Purnomo Yogo meninjau langsung kecelakaan yang terjadi di Jalan Gelora II, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Sabtu (27/3/2021) malam.
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perhubungan mencatat tingkat kecelakaan lalu lintas yang melibatkan angkutan barang di Indonesia terus mengalami peningkatan tiap tahunnya.

Bahkan sejak dua tahun lalu, kontribusi kecelakaan truk dan bus ini jadi yang terbesar nomor dua setelah sepeda motor. Padahal pada 2018 lalu hanya berada di peringkat ketiga.

Sekretaris Jenderal Indonesian Multimodal Transport Association (IMTA), Kyatmaja Lookman mengungkapkan, hal tersebut dikarenakan beberapa faktor. Satu di antaranya ialah adanya devisit atas pengemudi angkutan barang.

Baca juga: Banyak Diakali Pemudik, Polisi Bakal Periksa Ketat Truk

Kecelakaan dua truk besar di ruas Tol Jagorawi KM 11+700, Cipayung, Jakarta Timur, arah Jakarta, menyebabkan arus lalu lintas Tol Jagorawi arah Jakarta padat merayap, Kamis (19/12/2019).Twitter @TMCPoldaMetro Kecelakaan dua truk besar di ruas Tol Jagorawi KM 11+700, Cipayung, Jakarta Timur, arah Jakarta, menyebabkan arus lalu lintas Tol Jagorawi arah Jakarta padat merayap, Kamis (19/12/2019).

"Saat ini kita mengalami devisit pengemudi angkutan barang. Artinya, di sektor terkait pengemudi yang kompeten sangat sedikit sehingga tingkat kecelakaan menjadi tinggi," ujarnya dalam diskusi virtual, Selasa (20/4/2021).

"Untuk diketahui, pengemudi (angkutan barang) itu alumni kernet karena permintaannya tinggi memang tinggi tapi sumber daya tidak ada. Jadi, para kernet tertentu terpaksa jadi pengemudi," lanjut Kyatmaja.

Di satu sisi, hingga saat ini belum ada pembimbingan khusus bagi para pengemudi angkutan barang sebelum melakukan ekspedisi atau jalankan kendaraanya.

"Kalau pengemudi kendaraan pribadi, itu ada les-nya untuk membantu mereka dalam mendapatkan SIM dan lulus uji kompetensi. Tapi untuk pengemudi angkutan barang tidak ada selain pengalaman jadi kenek," kata dia.

Baca juga: Ladies, Jangan Nekat Pakai High Heels Saat Mengemudi

Ilustrasi kecelakaan bus di jalan bebas hambatan. Sumber: Shutterstock Ilustrasi kecelakaan bus di jalan bebas hambatan. Sumber: Shutterstock

Padahal, tugas menjadi asisten atau pembantu pengemudi dengan pengemudi tunggal alias utama sangatlah berbeda. Efek jangka panjang, tingkat kemampuan pengemudi angkutan barang turun.

Tidak sampai di sana, izin angkutan barang pun menjadi sorotan khusus karena tidak ada syarat dan ketentuan khusus. Sehingga, tidak jarang alat angkut yang digunakan tidak laik.

"Izin jadi angkutan barang juga seperti bebas saja, jadi kalau beli alat angkut (kendaraannya), mereka sudah bisa melakukan kegiatan terkait. Ini yang patut diberikan atensi lebih untuk menekan tingkat kecelakaan," ucap Kyatmaja.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X