Sopir Bus Harus Bisa Membaca dan Memperkecil Risiko Kecelakaan

Kompas.com - 11/01/2021, 15:02 WIB
Satlantas Polres Tasikmalaya langsung memasang garis polisi guna penyelidikan kecelakaan bus masuk jurang di Jalan Pamijahan, Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (10/11/2020) dini hari. KOMPAS.COM/IRWAN NUGRAHASatlantas Polres Tasikmalaya langsung memasang garis polisi guna penyelidikan kecelakaan bus masuk jurang di Jalan Pamijahan, Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (10/11/2020) dini hari.

JAKARTA, KOMPAS.comKecelakaan yang melibatkan bus di Indonesia cukup marak. Sebagai contoh belum lama ini pengemudi bus yang kehilangan kendali kendaraannya di Tol Pejagan yang akhirnya menabrak pembatas jalan.

Selain itu, sering juga kita lihat aksi bus yang kebut-kebutan di jalan tol, menyalip dari bahu jalan, sampai mengemudi tidak menjaga jarak dengan kendaraan di depannya. Contoh tadi sangat menggambarkan pengemudi yang masih tidak paham risiko bahaya menyetir bus.

Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia Sony Susmana mengatakan, mengemudikan mobil yang besar seperti bus, memiliki tanggung jawab yang besar juga.

Baca juga: Pilihan MPV Bekas Harga Rp 70 Jutaan, Ada Xenia, Avanza dan Innova

Kondisi bus pariwisata rombongan SMA Muhammadiyah 1 Gondangrejo dan truk yang terlibat tabrakan di Tol Madiun-Ngawi, Minggu (3/8/2020) dini hari. (Tribun Jatim/Istimewa) Kondisi bus pariwisata rombongan SMA Muhammadiyah 1 Gondangrejo dan truk yang terlibat tabrakan di Tol Madiun-Ngawi, Minggu (3/8/2020) dini hari. (Tribun Jatim/Istimewa)

“Seharusnya para pemilik SIM B2 wajib belajar bagaimana melihat risiko-risiko bahaya dan SOP dalam mengantisipasinya. Sehingga mampu menekan angka kecelakaan,” ucap Sony kepada Kompas.com, Minggu (10/1/2021).

Permasalahannya, pengemudi bus di Indonesia ini berbeda, mereka masih tidak paham risiko membawa bus. Sony mengatakan, ada beberapa hal soal kemampuan mengemudi yang perlu dikuasai saat menyetir bus.

“Misalnya operasional kendaraan saat kondisi normal maupun tidak normal, lalu kepribadian, defensive driving, dan pengetahuan tentang kendaraan. Ini merupakan beberapa materi standar yang wajib dipelajari oleh pengemudi mobil besar,” kata Sony.

Baca juga: Penyebab Dovi Cabut dari Ducati, Ribut dengan Orang Ini

Operasional kendaraan saat tidak normal itu maksudnya seperti ketika bus hilang kendali, selip maupun pecah ban, bagaimana pengemudi bisa mengoperasikan dengan tetap aman.

“Memang kondisi tidak normal ini pasti berujung kecelakaan, bisa tunggal atau melibatkan pihak lain. Tapi paling tidak pengemudi punya kemampuan meminimalisir risiko,” ucapnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X