Mau Liburan, Kenali Ragam Risiko Paparan Covid-19 Saat Bermobilitas

Kompas.com - 19/12/2020, 11:41 WIB
Ilustrasi liburan SHUTTERSTOCKIlustrasi liburan
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Guna menekan paparan Covid-19 di musim libur panjang Natal dan tahun baru, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiko Adisasmito, mengingatkan masyarakat menahan diri pulang kampung atau berpergian.

"Saya mengimbau masyarakat, jika perjalanan tidak mendesak, diharapkan tidak melakukannya," kata Wiku dalam keterangan resminya, Kamis (17/12/2020).

Tak hanya itu, Wiku juga menjelaskan beberapa jenis mobilitas yang memiliki tingkat risiko paparan Covid-19. Mulai dari yang levelnya rendah sampai yang tinggi.

Baca juga: Liburan, Mobil Pribadi Jadi Sasaran Rapid Test Antigen

Untuk risiko rendah, contohnya seperti beraktivitas di rumah dan hanya beraktivitas dengan keluarga inti. Atau melakukan perjalanan singkat dengan kendaraan pribadi dengan keluarga tanpa melakukan pemberhentian selama perjalanan.

Sejumlah kendaraan melintas di tol layang Jakarta-Cikampek II, Bekasi Jawa Barat, Minggu (1/11/2020). Pada arus balik libur cuti bersama dan Maulid Nabi Muhammad SAW, lalu lintas di tol Jakarta-Cikampek terpantau ramai lancar.ANTARA FOTO/FAKHRI HERMANSYAH Sejumlah kendaraan melintas di tol layang Jakarta-Cikampek II, Bekasi Jawa Barat, Minggu (1/11/2020). Pada arus balik libur cuti bersama dan Maulid Nabi Muhammad SAW, lalu lintas di tol Jakarta-Cikampek terpantau ramai lancar.

Menurut Wiku, melakukan perjalanan dengan kendaraan pribadi bersama keluarga tanpa melakukan pemberhentian selama perjalanan akan lebih berisiko.

Termasuk melakukan interaksi dengan bukan anggota keluarga inti di ruang terbuka dengan mematuhi 3M atau memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

Sementara untuk kondisi lebih tinggi berisiko, di antaranya adalah melakukan perjalanan dengan kendaraan pribadi bersama bukan anggota keluarga atau menggunakan transportasi umum layaknya, kereta atau bus jarak jauh.

Baca juga: Selama Liburan, Random Rapid Test Antigen Bergulir di 70 Rest Area

Ilustrasi road trip bersama keluargaSHUTTERSTOCK Ilustrasi road trip bersama keluarga

"Kondisi risiko tertinggi, yaitu penerbangan dengan transit, perjalanan dengan kapal atau perahu, dan berinteraksi dengan orang dari beragam sumber di ruangan tertutup dengan ventilasi buruk dengan sebagian kecil mematuhi 3M," ucap Wiku.

Dari adanya paparan tersebut, bisa dilihat memang tingkatan paling berisiko adalah saat menggunakan transportasi umum. Walau kendaraan pribadi juga lebih aman, namun berdiam di rumah jauh lebih aman.

Karena itu, sebagai langkah mitigasi risiko mobilitas saat libur panjang, Wiku menjelaskan pemerintah sedang melakukan finalisasi kebijakan perjalanan antarkota antarprovinsi, sala satu dengan adanya kebijakan hasil rapid test antigen.

Baca juga: 18 Desember, Keluar Masuk Jakarta Wajib Sertakan Hasil Rapid Antigen

Polisi menghalau mobil bus yang membawa penumpang di jalan tol Jakarta-Cikampek untuk keluar ke Gerbang tol Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (24/4/2020). Larangan mudik mulai diberlakukan 24 April 2020 pukul 00.00 WIB. Polda Metro Jaya melarang kendaraan pribadi baik motor atau mobil dan kendaraan umum berpenumpang keluar dari wilayah Jabodetabek. Pemeriksaan dan penyekatan kendaraan tersebut akan dilakukan di 18 titik pos pengamanan terpadu dan pos-pos check point di jalur tikus dan perbatasan.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Polisi menghalau mobil bus yang membawa penumpang di jalan tol Jakarta-Cikampek untuk keluar ke Gerbang tol Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (24/4/2020). Larangan mudik mulai diberlakukan 24 April 2020 pukul 00.00 WIB. Polda Metro Jaya melarang kendaraan pribadi baik motor atau mobil dan kendaraan umum berpenumpang keluar dari wilayah Jabodetabek. Pemeriksaan dan penyekatan kendaraan tersebut akan dilakukan di 18 titik pos pengamanan terpadu dan pos-pos check point di jalur tikus dan perbatasan.

"Pengambilan kebijakan terkait pelaku perjalanan dilakukan karena selalu ada tren kenaikan kasus setiap masa liburan panjang. Selain itu, sudah jelas berdasarkan data kita sama-sama mempelajari tiap liburan yang meningkatkan mobilitas penduduk akan mengakibatkan lonjakan kasus pada 2 hingga 4 minggu setelahnya," ujar Wiku.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X