Kemenperin Sebut Ada Konsorsium Besar Pabrik Baterai di Indonesia

Kompas.com - 15/10/2020, 08:22 WIB
Ilustrasi mobil listrik. The GuardianIlustrasi mobil listrik.

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazier mengatakan, hilirisasi nikel akan memberikan dampak positif bagi sektor otomotif.

Selain mampu meningkatkan nilai rantai pasok produksi atas baja dan stainless steel, kegiatan tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk produksi baterai bagi kendaraan bermotor listrik atau electric vehicle (EV).

"Indonesia memiliki resource nikel yang sangat banyak, ini dapat dimanfaatkan untuk produksi baterai. Selama ini, 63 persen hilirisasi nikel larinya ke stainless steel, hanya sekitar 23 persen ke baterai sampai turbin. Nah, nanti kita kembangkan," ujar Taufiek dalam webinar 'Prospek Pemulihan Ekonomi Sektor Industri Otomotif Nasional', Jakarta, Rabu (14/10/2020).

Baca juga: Kemenperin Masih Menanti Pembebasan Pajak Pembelian Mobil Baru

Ilustrasi proses charge mobil listrik Hyundai IoniqKOMPAS.com/Ruly Ilustrasi proses charge mobil listrik Hyundai Ioniq

Namun, untuk membuat baterai yang dapat digunakan pada kendaraan bermotor, dibutuhkan lithium. Sementara komponen ini hanya tersedia di China dan Australia.

"Ini yang jadi tantangan. Jangan sampai barang kita (hasil olahan nikel) di ekspor ke luar (untuk dirakit jadi baterai lithium-ion). Tapi kita harus buat pabrik di sini, lithium-nya saja yang kita ambil (impor) karena itu sebagai navigator untuk memacu baterai," ucap Taufiek.

"Kalau terbalik, malah tidak ada nilai tambah dan pada akhirnya tidak dapat jadi salah satu pemain utama di era elektrifikasi. Oleh karena itu pemerintah mendukung sekali dalam pembangunan smelter-smelter dan hilirisasi nikel," lanjut dia.

Pada kesempatan sama, Taufiek juga menyebut bahwa dalam waktu dekat akan ada investasi konsorsium untuk pembangunan baterai di Indonesia. Tapi ia belum bisa katakan secara detil.

"Ya, sekarang juga mau ada investasi konsorsium mengenai pabrik baterai. Nah setelah ini harus dipikirkan, OEM mau tidak menerima atau in line dengan baterai yang diproduksi nanti," katanya.

Baca juga: Luhut Ngotot Dorong Pengembangan Mobil Listrik di Indonesia

Proses Peleburan Bijih Nikel di Smelter PT Vale Indonesia Tbk, Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi SelatanKOMPAS.com/Amran Amir Proses Peleburan Bijih Nikel di Smelter PT Vale Indonesia Tbk, Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan

Tantangan dari Thailand

Dalam mewujudkan Indonesia sebagai pemain utama dalam kendaraan listrik tak lepas dari tantangan negara-negara tetangga, khususnya Thailand.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X