Kemenperin Dorong Pengembangan Industri Baterai Mobil Listrik Lokal

Kompas.com - 28/08/2020, 13:41 WIB
Ilustrasi mobil listrik. The GuardianIlustrasi mobil listrik.
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perindustrian berupaya mendorong pengembangan teknologi baterai untuk mendukung pembangunan industri kendaraan listrik nasional dengan mengusung konsep ekonomi sirkular alias circular economy.

Pasalnya, baterai merupakan komponen kunci pada kendaraan listrik yang berkontribusi hingga 40 persen dari harga jualnya.

“Baterai merupakan komponen kunci untuk kendaraan listrik dan berkontribusi sekitar 25-40 persen dari harga kendaraan listrik,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Doddy Rahadi di keterangan resmi, Kamis (27/8/2020).

Baca juga: Kemenhub Luncurkan Regulasi Kendaraan Bermotor Listrik

Baterai Mobil Listrik Nissan Leaf Foto: Wikipedia/H.Kashioka Baterai Mobil Listrik Nissan Leaf

Pernyataan tersebut disampaikan Doddy pada acara webinar Teknologi Bahan dan Barang Teknik (TBBT) 2020 yang digelar oleh Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T) Kementerian Perindustrian.

Doddy memaparkan bahwa mobil listrik menggunakan baterai lithium ion dengan bahan aktif katoda, di antaranya melibatkan unsur lithium, nikel, kobalt, mangan, dan alumunium.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Katoda sendiri, memberikan kontribusi paling tinggi terhadap harga sel baterai lithium, yakni sekitar 34 persen.

Kemenperin mendorong material tersebut harus diproses di dalam negeri untuk mendapatkan harga yang lebih ekonomis. Apalagi Indonesia memiliki sumber daya alam berlimpah yang dapat diolah menjadi bahan aktif tersebut.

Baca juga: Pertumbuhan Pasar Kendaraan Listrik Masih Sulit Bergerak

PHEVIstimewa PHEV

Doddy menyebut, melalui B4T, pihaknya telah berupaya melakukan upaya substitusi impor di bidang energi dengan membuat bahan aktif katoda berbasis NMC (nikel-mangan-kobalt).

Proses pembuatan material aktif ini menggunakan produk industri smelter Indonesia. Namun, proses substitusi impor bahan aktif katoda memiliki kendala, yaitu sumber lithium.

"Indonesia tidak memiliki sumber alam mineral lithium. Untuk mengatasi hal ini, perlu proses recovery lithium dari recycle baterai bekas (urban mining). Upaya ini salah satu bentuk circular economy di bidang energi, khususnya kendaraan listrik," ucap Doddy.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X