Masih Kurangnya Empati Pengguna Jalan di Indonesia

Kompas.com - 28/07/2020, 10:42 WIB
Suasana lalu lintas di jalur Puncak, Kabupaten Bogor, Senin (1/6/2020). Petugas melakukan penyekatan di pos Rindu Alam yang berbatasan dengan wilayah Cianjur  untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 melalui aktivitas mudik masyarakat. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOSuasana lalu lintas di jalur Puncak, Kabupaten Bogor, Senin (1/6/2020). Petugas melakukan penyekatan di pos Rindu Alam yang berbatasan dengan wilayah Cianjur untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 melalui aktivitas mudik masyarakat.

JAKARTA, KOMPAS.com – Melihat kondisi lalu lintas di Indonesia, tidak jarang terdapat orang yang sering melanggar. Sekadar bisa membawa kendaraan tidak menjadikan orang mau tertib dan mengikuti aturan lalu lintas.

Untuk bisa tertib berlalu lintas, dibutuhkan empati yang tinggi pada setiap pengguna jalan. Jika dilihat dengan kondisi saat ini, empati pengguna jalan di Indonesia masih jauh dari baik.

Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia, Sony Susmana mengatakan, pengemudi yang tidak tertib, kurang paham bahwa jalan raya adalah milik dan digunakan bersama-sama.

Baca juga: Polisi Sebut Tak Ada Larangan Mudik Idul Adha

persimpangan di kota bogorKompas.com/Fathan Radityasani persimpangan di kota bogor

“Artinya, pengguna jalan harus memiliki empati dalam berbagi untuk tujuan keselamatan. Jadi tidak ada yang prioritas di jalan, kecuali darurat,” kata Sony kepada Kompas.com, Senin (27/7/2020).

Hal yang bisa meningkatkan empati yaitu dengan mengubah mindset. Sony mengatakan, kalau para pengendara sudah berubah mindsetnya, pasti akan tertib. Namun dibalik itu, ada faktor-faktor lain yang membuat mereka tidak tertib.

“Ubah mindset memang yang utama, namun perhatikan juga faktor lain seperti pendidikan dan meniru orang yang salah. Ini yang menjadikan pengguna jalan agresif, egois, dan lain-lain,” ucap Sony.

Baca juga: Mengapa di Atas Kertas Honda CBR250RR SP 2020 Bisa Lebih Kencang

Sony berpendapat, ada beberapa hal yang bisa membantu mengubah mindset pengguna jalan raya. Pertama, penegakan hukum yang optimal. Kedua, contoh yang dilakukan oleh pembuat kebijakan. Ketiga, pendidikan.

“Mengubah mindset ini tidak semudah membalikan telapak tangan, setidaknya butuh waktu sampai dua generasi. Kalau melihat negara tetangga, Malaysia butuh waktu 15 tahun untuk mengubah mindset rakyatnya,” kata dia.

“Paling tidak penegakan hukum di jalan raya harus maksimal, tidak pandang bulu dan kompromi. Sehingga masyarakat sadar akan pentingnya tertib berlalu lintas,” ucapnya.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X