Sekat Partisi Ojol Harus Jadi Keharusan

Kompas.com - 10/06/2020, 13:24 WIB
Pengemudi ojek online dengan penumpangnya melintas di Kawasan Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat, Senin (8/6/2020). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengizinkan pengemudi ojek online beroperasi untuk mengangkut penumpang selama PSBB transisi dengan menerapkan protokol kesehatan. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPengemudi ojek online dengan penumpangnya melintas di Kawasan Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat, Senin (8/6/2020). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengizinkan pengemudi ojek online beroperasi untuk mengangkut penumpang selama PSBB transisi dengan menerapkan protokol kesehatan.
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Ojek online (ojol) kini sudah bisa kembali beroperasi dengan membawa penumpang. Aturan ini pun sudah ditegaskan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Permenhub Nomor 41 Tahun 2020 sebagai ubahan dari Permenhub Nomor 18 Tahun 2020.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat (Dirjen Hubdat) Budi Setiyadi mengatakan, ojol sejak Senin (8/6/2020) sudah boleh beroperasi dengan protokol kesehatan yang ketat dan akan menerapkam physical distancing melalui beberapa inovasi.

Inovasi yang dimaksud adalah sekat partisi sebagai pemisah antara pengendara dan penumpang. Namun demikian, Budi menegaskan bila hal tersebut bukan menjadi keseharusan yang ditetapkan, melainkan hanya sebatas saran dari Kemenhub.

Baca juga: Agar Lebih Higienis, Ojol Diminta Pakai Sekat

"Jadi ini (sekat) sifatnya tidak mandatori namun kami menyarankan kepada Gojek dan Grab supaya tingkat kepercayaan masyarakat untuk menggunakan ojol tumbuh seperti semula, jadi kedua aplikator harus berupaya menyiapkan kendaraan dan pengemudi yang higienis," kata Budi dalam konferensi pers secara virtual, Selasa (9/6/2020).

Pengemudi Ojek Online menggunakan partisipasi pembatas berbahan plastik untuk mengurangi kontak fisik dengan penumpangDOKUMEN PRIBADI Pengemudi Ojek Online menggunakan partisipasi pembatas berbahan plastik untuk mengurangi kontak fisik dengan penumpang

Hal ini pun mendapat respon dari Pengamat Transportasi Djoko Setijwarno yang juga merupakan Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Djoko, harusnya Kemenhub memberikan ketegasan soal partisi. Apalagi mengingat pada sepeda motor tidak bisa menerpakan physical distancing antar pengendara dan penumpangnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 

Pasti banyak di antara kamu yang sudah mulai kembali beraktivitas ya? Tenang, Grab #SiapJalanLagi buat kamu! Gak perlu khawatir, kita punya GrabProtect yang merupakan standar kebersihan dan kesehatan terbaik di industri transportasi online. Ada 6 langkah yang jamin kamu tetap aman. 1. Pengemudi dan penumpang selalu pakai masker. 2. Pengemudi dan penumpang cek kesehatan sebelum jalan. 3. Bebas penalti pembatalan jika pengemudi/penumpang tak pakai masker/tidak sehat. 4. Kendaraan dibersihkan secara berkala. 5. Gunakan transaksi non tunai. Bayar dengan OVO. 6. Tersedia hand sanitizer di kendaraan. Yuk langsung pesan GrabBike atau GrabCar untuk antarkan kamu beraktivitas! Oh iya, ingat ya untuk tetap waspada dan ikuti peraturan di zona atau lokasi di mana kamu berada. Untuk informasi zona Jakarta bisa lihat di sini: https://corona.jakarta.go.id/id/zona-pengendalian #GrabProtect

A post shared by Grab Indonesia (@grabid) on Jun 8, 2020 at 4:08am PDT

"Harusnya sekat atau partisi itu menjadi mandatori, jadi suatu keharusan yang wajib dipakai saat beroperasi. Aplikator harus bertanggung jawab menyediakan partisi dan ditaati, bukan hanya menjadi hal yang disarankan," ucap Djoko saat dihubungi Kompas.com, Rabu (10/6/2020).

Baca juga: Begini Pedoman dan Teknis Transpotasi Umum Jelang New Normal

Namun demikian, Djoko menjelaskan bila sekat yang digunakan oleh ojol, baik yang dibuat sendiri oleh asosiasi atau disediakan aplikator wajib berlisensi Standar Nasional Indonesia (SNI).

Pengemudi ojek online dengan penumpangnya melintas di Jl. Prof. DR. Satrio, Jakarta Selatan, Senin (8/6/2020). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengizinkan pengemudi ojek online beroperasi untuk mengangkut penumpang selama PSBB transisi dengan menerapkan protokol kesehatan.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Pengemudi ojek online dengan penumpangnya melintas di Jl. Prof. DR. Satrio, Jakarta Selatan, Senin (8/6/2020). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengizinkan pengemudi ojek online beroperasi untuk mengangkut penumpang selama PSBB transisi dengan menerapkan protokol kesehatan.

Hal ini penting untuk menjamin bila partisi yang digunakan benar-benar aman. Selain itu tentu juga harus mendapat persetujuan dari Gugus Tugas Perceptan Penanganan Covid-19.

"SNI itu harus, jadi ada spesifikasi yang jelas untuk masalah jaminan keamanan, ada kepastian bila digunakan aman bagi penendara dan penumpangnya," kata Djoko.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.