Hyundai Minta Harmonisasi PPnBM Ditunda, Ini Jawaban Kemenperin

Kompas.com - 27/01/2020, 15:17 WIB
Ilustrasi Hyundai ShuterstockIlustrasi Hyundai

JAKARTA, KOMPAS.com - Hyundai Motor Company (HMC) dikabarkan meminta pemerintah Indonesia untuk menunda pelaksanaan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 73 Tahun 2019 tentang harmonisasi skema Pajak Penjualan Atas Barang Mewah ( PPnBM) bagi kendaraan bermotor.

Permohonan ini berkaitan dengan investasi Hyundai di Indonesia dengan komitmen 1,549 miliar dollar Amerika Serikat (AS) atau Rp 21,8 triliun.

Pasalnya, merek Korea Selatan ini dikabarkan merasa kurang kompetitif jika harmonisasi PPnBM khususnya mobil berteknologi konvensional (internal combustion engine/ICE) yang baru berlaku. Adapun aturan tersebut, rencananya berlaku pada Oktober 2021.

Dikonfirmasi, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kementerian Perindustrian ( Kemenperin) Putu Juli Ardika tak menampik adanya kabar permohonan itu. Ia mengatakan, pihaknya bakal melakukan komunikasi lanjutan dengan pihak Hyundai.

Baca juga: Jokowi Pastikan Hyundai Bangun Pabrik di Indonesia Tahun Depan

Sedan listrik Hyundai Ioniq Sedan listrik Hyundai Ioniq

"Pertama, kebijakan ini efektif dua tahun setelah diundangkan (16 Oktober 2019 lalu). Sekarang sedang dipersiapkan teknis dan lainnya, termasuk turunan Perpres No.55/2019. Saya rasa bila dilihat dari produknya, Hyundai itu punya segmen yang menarik dan sebagian besar akan diekspor," katanya saat ditemui Kompas.com, belum lama ini.

"Kedua, Hyundai masuk dahulu ke Asosiasi, kemudian setelah itu baru kita lakukan diskusi bersama agar seluruh kebijakan berjalan bisa menumbuhkan iklim industri yang baik. Berdasarkan laporan yang sama terima, sekarang dia sedang mendekati asosiasi," ujar Putu lagi.

Putu enggan untuk menjelaskan awal mula perkara permohonan HMC ini. Pun, dengan informasi lanjutan mengenai penundaan harmonisasi PPnBM tersebut.

"Hyundai diharapkan bisa menembus pasar Australia melalui kerjasama yang terjalin lewat IA-CEPA (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement). Sebab, produk mereka cocok dengan pasar di sana (SUV dan sedan, serta mobil listrik)," kata Putu.

Kompas.com sudah mencoba mencari komfirmasi dari pihak Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMM), namun belum mendapatkan respons.

Isi regulasi

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X