Pertamax Turbo Lagi Turun Harga, Pakai BBM Oktan Tinggi Apa Dampaknya?

Kompas.com - 13/01/2020, 16:20 WIB
SPBU 31.164.01, salah satu SPBU Pertamina yang ada di Jalan Margonda, Depok. Kompas.com/Alsadad RudiSPBU 31.164.01, salah satu SPBU Pertamina yang ada di Jalan Margonda, Depok.
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Awal tahun ini PT Pertamina telah melakukan penyesuaian harga BBM jenis solar dan bensin. Harga BBM Pertamax dari sebelumnya Rp 9.850 per liter menjadi Rp 9.200 per liter, sementara Pertamax Turbo dari sebelumnya Rp 11.200 menjadi Rp 9.900 per liter.

Dengan turunnya harga jual BBM tersebut, membuat orang-orang tertarik menggunakan Pertamax atau Pertamax Turbo. Lantas, apa sih efek menggunakan BBM dengan oktan lebih tinggi?

Menurut Tri Yuswidjajanto Zaenuri, ahli konversi energi dari Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung, mengatakan jika setiap kendaraan telah memiliki hitungan rasio kompresi mesin. Hasil dari hitungan tersebut menentukan jenis BBM yang harus digunakan.

Baca juga: Ini Faktor yang Menentukan Kapasitas Tangki BBM Mobil Berbeda-beda

General Manager PT Pertamina (Persero) MOR 1 Erry Widiastono KOMPAS.com / Mei Leandha General Manager PT Pertamina (Persero) MOR 1 Erry Widiastono

“Tinggal disesuaikan saja dengan data spek, tapi kalau pakai bahan bakar dengan oktan yang terlalu tinggi justru tidak baik untuk kendaraan yang tidak sesuai,” ujarnya kepada Kompas.com (13/1/2020).

Sebagai contoh, mobil dengan rasio kompresi mesin di atas 10:1 harusnya sudah pakai RON 92 atau setara Pertamax. Sementara untuk yang di atas 11:1 atau 12:1 tentu harus pakai yang oktan lebih tinggi.

Untuk mobil-mobil keluaran tahun 2000-an ke bawah, biasanya rasio kompresi mesin masih rendah. Sekitar 9:1 ke bawah, dan butuh BBM dengan RON 88 atau setara Premium.

Baca juga: Perbedaan Kapasitas Tangki BBM Mobil Hybrid dan Mesin Konvensional

Pertamina Delivery Service di IIMS Motobike Expo 2019KOMPAS.com/Ruly Pertamina Delivery Service di IIMS Motobike Expo 2019

“Kalau mobil lawas dengan kompresi rendah seperti itu, pakai oktan tinggi justru tidak baik. Karena pasti ada sisa-sisa bahan bakar yang enggak terbakar,” kata Yus.

Ia menambahkan, bahan bakar yang tidak terbakar ini bisa saja masuk ke komponen mesin, hingga tercampur dengan oli. Hal ini tentu bisa berbahaya, apalagi kalau didiamkan dan makin menumpuk.

“Lebih baik ikuti anjuran pabrikan, karena mereka yang telah mengatur engine management seperti apa, kompresinya, dan lain-lain,” ucapnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X