Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 05/09/2019, 20:00 WIB
Ruly Kurniawan,
Azwar Ferdian

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyatakan, bahwa Indonesia tidak hanya mampu memproduksi baterai untuk kendaraan listrik saja, tetapi juga bisa mengelola limbahnya.

Luhut menyebut, saat ini sudah ada investor yang menandatangani kerja sama untuk mengelola limbah baterai lithium, komponen utama di kendaraan listrik, di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park, Sulawesi Tengah.

Sehingga, Indonesia tidak hanya mampu untuk membuat dan memproses baterai untuk kendaraan listrik saja, tetapi juga bisa mengelola limbahnya.

"Kemarin sudah tanda tangan 4 miliar dollar AS untuk recycle baterai lithium, investasi di Morowali," kata Luhut di Indonesia Electric Motor Show (IEMS), Jakarta, Rabu (4/9/2019).

Baca juga: Pentingnya Standarisasi Baterai Kendaraan Listrik

Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan (kiri depan) mengendarai motor listrik di arena Pameran Kendaraan Listrik Masa Depan, kawasan Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (31/8/2019). Kegiatan tersebut mengangkat tema Menuju Indonesia Bersih Udara dan Hemat Energi dengan Kendaraan Listrik.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan (kiri depan) mengendarai motor listrik di arena Pameran Kendaraan Listrik Masa Depan, kawasan Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (31/8/2019). Kegiatan tersebut mengangkat tema Menuju Indonesia Bersih Udara dan Hemat Energi dengan Kendaraan Listrik.

Investasi besar tersebut, dirinya melanjutkan, merupakan buah dari keputusan untuk memberhentikan ekspor nikel dari Indonesia ke negara lain.

Dengan demikian, tidak ada pilihan bagi para pemegang modal dan usaha untuk menanam investasi baterai lithium di Indonesia.

"Kemarin nikel ore (bahan baku nikel) dilarang. Mereka tidak bisa bikin lagi di tempat lain, hanya di Indonesia. Ini merupakan pertanda baik," kata Luhut.

Tetapi, Luhut masih enggan untuk menyatakan lebih jauh informasi tersebut. Pastinya, dukungan itu meyakinkan untuk Indonesia dapat berdiri tegak di era elektrifikasi atau kendaraan listrik berbasis baterai.

"Indonesia itu salah satu negara penghasil nikel terbesar, material utama lithium baterai, sampai 80 persen. Jadi kita punya nikel, dari mylai stainless steel, karton steel, kartoda, sampai lithium baterai. Dengan stok ini, orang sudah pindah investasinya ke sini," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com