Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 05/09/2019, 18:44 WIB
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Perpres No.55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai, merupakan awal bagi kebangkitan mobil dan sepeda motor listrik di Indonesia.

Sejalan dengan itu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pun mulai melakukan kajian pengolahan daur ulang baterai. Sebab dengan meningkatnya populasi kendaraan listrik, maka bertambah pula jumlah limbah baterai.

Baca juga: Ini Komponen Tervital di Mobil Listrik, Salah Sedikit Bisa Terbakar

Jarot Raharjo, Peneliti Pusat Teknologi Material BPPT, mengatakan, pihaknya sudah mulai melakukan pengkajian pengolahan baterai kendaraan listrik sejak tahun lalu. Semenjak mulai ramai isu mengenai mobil listrik.

"BPPT mulai setahun lalu dari isu mobil listrik mulai booming kami mempersiapkan ke depan, karena ini artinya akan banyak limbah baterai. Jadi kami dari Pusat Teknologi Material mengkaji teknologi bagaimana medaur ulang baterai," kata Jarot di Jakarta, Kamis (5/9/2019).

Mitsubishi memamerkan Outlander PHEV dan i-MiEV di ajang IEMS 2019Kompas.com/Dio Mitsubishi memamerkan Outlander PHEV dan i-MiEV di ajang IEMS 2019

Jarot mengatakan, sistem yang dikaji ialah mendaur ulang limbah baterai untuk mengambil bahan-bahan berharga yang tersisa. Dimana nantinya akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan baterai lagi.

"Dari daur ulang itu kita memperbaiki lagi material yang berharga yang ada di baterai lithium seperti kobalt, mangan, dan nikel itu dari proses yang kami kembangkan nanti itu jadi bisa dikembangkan lagi untuk pembuatan baterai," katanya.

Baca juga: Pakai Baterai Dalam Negeri, Harga Kendaraan Listrik Bisa Lebih Murah

Jarot mengatakan, limbah baterai kendaraan listrik termasuk dalam limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Kandungan di dalam baterai dapat membahayakan kesehatan atau kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain pada umumnya.

"Baterai beracun dari elektrolitnya, dan dari bebeapa komponen serta sifatnya yang mudah meledak. Regulasi mengenai yang mengolah limbah B3 itu ada regulasinya di Kementerian Lingkungan Hidup," kata Jarot.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.