Arogansi Pengendara Berkelompok di Jalanan - Kompas.com

Arogansi Pengendara Berkelompok di Jalanan

Kompas.com - 16/09/2017, 09:23 WIB
Video konvoi club.polantasindonesia Video konvoi club.

Jakarta, KompasOtomotif – Karakter pengendara atau pengemudi di jalanan Indonesia cukup beragam, entah saat bergerombol (iring-iringan/konvoi) atau ketika sendirian. Tak jadi masalah jika perilaku tak merugikan dan membahayakan pihak lain, tapi perlu perhatian dan tindakan tegas, jika terjadi sebaliknya.

Baru-baru ini akun instagram Polantas Indonesia memposting aksi komunitas mobil yang berusaha menerobos kemacetan, dengan mengambil jalur berlawanan. Ini dilakukan juga tanpa pengawalan pihak kepolisian.

Di dalam caption foto ditulis, “Ngaku club pelopor keselamatan jangan arogan dong, ingat bor yang lain masih mau selamat, gak tobat-tobat.”  Tampak di video kalau mobil yang dari arah berlawanan harus mengalah keluar jalur.

Edo Rusyanto, Koordinator Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman) mengatakan, berkendara ramai-ramai bisa saja menciptakan arogansi walaupun tidak seluruhnya, yakni meminta prioritas alias didahulukan. Hal ini jelas mengusik rasa keadilan sesama pengguna jalan.

 

Ngaku club pelopor keselamatan jangan arogan dong, ingat bor yang lain masih mau selamat ???????????? gak tobat-tobat | @indoricer

Sebuah kiriman dibagikan oleh POLISI LALU LINTAS INDONESIA (@polantasindonesia) pada Sep 13, 2017 pada 11:13 PDT

Baca juga : Korban Fatalitas Kecelakaan Lalu Lintas Kurang Sorotan

Padahal, prioritas hanya diberikan bagi pemilik hak utama, seperti ambulans dan pemadam kebakaran, itupun ketika mereka sedang menjalankan tugas kemanusiaan. Ini juga tertera di dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Linta dan Angkuta Jalan.

“Ada euforia dan mentalitas massa. Euforia berkendara ramai-ramai ingin menunjukan sesuatu, entah eksistensi atau hegemoni. Lalu, mentalitas massa membuat keberanian semu. Menggeser rasa bersalah individu ke kelompok,” tutur Edo.

“Dua hal di atas juga bisa diatasi lewat edukasi dan penanaman kesadaran bahwa keselamatan jalan merupakan prioritas. Kalau sudah mengerti aturannya, tinggal diimplementasikan dan menjunjung etika sebagai nilai luhur di atas hukum,” kata Edo.

Edo melanjutkan, pihak kepolisian juga perlu maksimal dalam pelaksanaan preemtif, preventif, dan represif. Semoga perilaku-perilaku para pengemudi berkelompok di jalan yang arogan (mobil dan motor), tidak lagi terjadi.


EditorAgung Kurniawan
Komentar

Terkini Lainnya

Jadwal Uji Coba Perluasan Ganjil-Genap di Jakarta

Jadwal Uji Coba Perluasan Ganjil-Genap di Jakarta

News
Siasati Rasa Lelah saat Terjebak Macet

Siasati Rasa Lelah saat Terjebak Macet

Tips N Trik
Jika Pajak Sedan Turun, Mercy Belum Pasti Turun Harga

Jika Pajak Sedan Turun, Mercy Belum Pasti Turun Harga

News
Dimana Tempat Tes Psikologi untuk Pemohon SIM?

Dimana Tempat Tes Psikologi untuk Pemohon SIM?

News
Mercy Mau Langsung Rakit Mobil Listrik

Mercy Mau Langsung Rakit Mobil Listrik

News
Balik dari Kampung Halaman Jangan Tunggu 23 dan 24 Juni

Balik dari Kampung Halaman Jangan Tunggu 23 dan 24 Juni

News
Hari Pertama Simulasi Uji Psikologi SIM

Hari Pertama Simulasi Uji Psikologi SIM

News
Mercedes Pastikan Ikut GIIAS 2018

Mercedes Pastikan Ikut GIIAS 2018

News
Cek Tutup Radiator Sepeda Motor

Cek Tutup Radiator Sepeda Motor

Tips N Trik
Skutik Honda SH150i Menghilang

Skutik Honda SH150i Menghilang

News
Ingat, Ganjil-Genap Jakarta Sudah Berlaku Lagi

Ingat, Ganjil-Genap Jakarta Sudah Berlaku Lagi

News
Biaya Mudik Jakarta-Surabaya PP Pakai Datsun Cross

Biaya Mudik Jakarta-Surabaya PP Pakai Datsun Cross

Feature
Lorenzo Tanpa Beban Kejar Marquez

Lorenzo Tanpa Beban Kejar Marquez

Sport
Komentar Rossi buat Sang Murid, Galang Hendra

Komentar Rossi buat Sang Murid, Galang Hendra

Sport
Ganjil-Genap saat Asian Games Dibuat 15 Jam Sehari

Ganjil-Genap saat Asian Games Dibuat 15 Jam Sehari

News
Close Ads X