Perlu Perhatian Khusus bagi Pengemudi Berstatus Pelajar

Kompas.com - 17/08/2014, 11:03 WIB
Belasan mobil mewah milik pelajar terjaring razia polisi yang digelar di depan SMA 1 Semarang, di Kompleks Taman Menteri Supeno, Rabu (2/10/2013) pagi. Tribun Jateng/Adi PrianggoroBelasan mobil mewah milik pelajar terjaring razia polisi yang digelar di depan SMA 1 Semarang, di Kompleks Taman Menteri Supeno, Rabu (2/10/2013) pagi.
|
EditorAris F. Harvenda

Jakarta, KompasOtomotif – Diakui pihak sekolah, jumlah pejalar kelas XII, XI, atau bahkan X yang mengemudikan mobil ke sekolah tidak sedikit. Di kalangan pelajar SMA, sama seperti sepeda motor, mobil kerap dianggap “petualangan baru”, namun kenyataannya kebanyakan dari mereka belum punya SIM.

Sebagai contoh, SMA 82 yang terletak di pusat kota Jakarta. Salah satu perwakilan sekolah yang KompasOtomotif temui, Sri Hartini Spd, Wakil Kepala Sekolah Sarana-Prasarana dan Humas SMA 82 menerangkan, dari sekitar 700-an pelajar, sebagian besar mengemudikan kendaraan berangkat ke sekolah.

“Karena terlalu banyak, kita malah sampai harus merapikan parkiran sepeda motor di luar sekolah karena sering mengganggu kelancaran jalan. Kebetulan di sekeliling sekolah perumahan,” ujar Hartini selepas acara edukasi “safety driving” di SMU 82, Sabtu (16/8/2014).

Sementara itu, meski ruang parkir sulit, tidak menjadi halangan pelajar membawa mobil ke sekolah. Hartini menjelaskan, 60-70 persen pengemudi berasal dari kelas XII. Di level ini sebenarnya "area abu-abu", karena bisa saja mereka belum punya SIM walaupun sudah punya KTP. Lain lagi dengan pengemudi kelas XI, biasanya mencari posisi parkir yang sulit dilihat, agak menjauh dari sekolah.

Tribun Jateng/Adi Prianggoro Belasan mobil mewah milik pelajar terjaring razia polisi yang digelar di depan SMA 1 Semarang, di Kompleks Taman Menteri Supeno, Rabu (2/10/2013) pagi.

Berkendara aman
Ada banyak alasan pelajar “ngotot” bawa kendaraan ke sekolah, di antaranya kemudahan, kemandirian, eksistensi, serta gaya. Tapi tidak satupun di antara itu senilai dengan nyawa yang hilang bila terjadi kecelakaan. Hal seperti ini sulit dihindari, sebab keinginan mengemudikan mobil ke sekolah lebih besar dibanding wawasan tentang otomotif.

Maka dari itu perlu edukasi berkendara aman yang mengajarkan prilaku, tata krama, antisipasi, dan banyak hal lain yang bisa digunakan sebagai bekal mengemudi. Intinya tidak merugikan diri sendiri, apalagi orang lain.

“Kami tidak bisa satu-satu periksa apakah mereka bawa kendaraan atau tidak. Ini tidak bisa selamanya dilarang maka itu perlu edukasi tentang ‘safefty driving’. Minimal anak-anak tahu standardnya. Jadi bisa tahu mengemudi yang aman seperti apa. Kalau bukan pengemudi, mereka bisa mengawasi pengemudi dari jok penumpang,” kata Hartini. Perhatian orang tua juga sangat diperlukan untuk memberikan edukasi serta tidak memanjakan terlalu berlebihan.

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X