Tanpa Scrambler, Ducati di Indonesia Bakal Terseok - Kompas.com

Tanpa Scrambler, Ducati di Indonesia Bakal Terseok

Donny Apriliananda
Kompas.com - 22/02/2017, 11:53 WIB
KompasOtomotif-Donny Apriliananda Scrambler, angkat derajat Ducati di Indonesia.

Jakarta, KompasOtomotif – Semua gara-gara Scrambler. Munculnya model ini, penjulan Ducati secara global langsung melejit, bahkan mencapai rekor tahun lalu, sebagian besar karena model beraliran retro ini. Kisah di Indonesia pun demikian.

Saat Garansindo Group mengasuh merek ini, lalu menjual produk belum genap setahun, 90 persen penjualan disumbang Scrambler. Tanpa model ini, bisa jadi, Ducati Indonesia diwakili Garansindo Euro Sports harus mengeluarkan energi ekstra buat jualan.

Ya, Garansindo memang sedikit beruntung, mengasuh Ducati di saat yang tepat, mempunyai produk yang sedang tren. Lebih dari itu, Scrambler diciptakan sebagai motor yang terjangkau, meski ketika masuk Indonesia, harganya tetap jadi berlipat, dan harus dipasarkan lebih dari Rp 200 jutaan.

Tapi itu benar-benar menolong. Bandingkan ketika Ducati hanya memasarkan model-model sport lain, yang harganya sudah tembus Rp 400 jutaan karena kenaikan PPnBM menjadi 125 persen. Buktinya pun ada.

Managing Director Garansindo Euro Sports Dhani M Yahya membeberkan, bahwa penjualan sejak Ducati bergabung dengan Garansindo (Mei 2016), 90 persennya adalah Scrambler.

Lalu di-break down lagi, dari penjualan Scrambler, 60 persen adalah tipe Sixty2 (400 cc-paling murah), dan 40 persen Scrambler 800 cc.

Sisanya, yang 20 persen dari total penjualan, adalah model-model lain seperti Monster, Multistrada, Diavel, Xdiavel, sampai Panigale. Dari prosentase itu, lalu kontribusi Scrambler bisa dihitung.

Dhani menyatakan bahwa penjualan Ducati sejak dipegang Garansindo sekitar 100-an unit. Artinya, 80 unit adalah kontribusi Scrambler. Bisa dibayangkan, tanpa model ini, Garansindo harus berusaha menjual lebih keras.

”Soal menggenjot penjualan pada tipe selain Scrambler, memang harus ada nature. Dalam artian, model-model ini populasinya cukup banyak di Indonesia, kurang lebih 1.500-an, mayoritas Monster. Setelah itu Diavel, Multistrada, Panigale. Mereka akan terdorong untuk trade in jika ada produk baru,” kata Dhani.

PenulisDonny Apriliananda
EditorAgung Kurniawan
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM