Komentar Pengusaha dan Sopir Truk soal Lampu Silau - Kompas.com

Komentar Pengusaha dan Sopir Truk soal Lampu Silau

Donny Apriliananda
Kompas.com - 26/10/2016, 13:22 WIB
sidomi Lampu silau karena penggunaan HID.

Jakarta, KompasOtomotif – Setelah protes keras salah seorang sopir truk dari Mojokerto, Jawa Timur, menjadi viral dalam Facebook, belum lama ini, KompasOtomotif coba menggali informasi lain dari para pengusaha truk, atau sopir lain yang mungkin bisa menjelaskan kondisi sebenarnya.

Kebetulan, dalam acara Truck Campaign yang diselenggarakan PT Krama Yudha Berlian Motors di Balai Sarbini, Jakarta, (25/10/2016), banyak ditemui para pengusaha. Juga ada berapa sopir truk yang kebetulan stand by.

Heri Hardiansyah, salah satu sipor truk yang ditemui KompasOtomotif, mengatakan bahwa ini keluhan lama. Dia pun percaya, tak hanya para sopir truk yang menderita dengan sorot lampu silau mobil di depannya, tetapi juga pengendara lain non sopir truk.

”Pasti mengganggu, dan kadang suka kesel (marah juga. Para sopir harus lebih hati-hati melihat jalan karena ’tembakan’ cahaya terang dari depan. Tipsnya, ya jangan dilihat. Tetap fokus pada jalan yang akan kita lalui,” kata Heri.

Ditanya soal ini, salah satu pengusaha yang mempekerjakan puluhan sopir, Sutoyo, mengaku belum mengecek berita tersebut. Namun dia berusaha menjelaskan bahwa sopir truk memang paling rawan kena sorotan cahaya silau.

”Banyak truk yang kaca depannya tidak pakai kaca film. Mereka memang sering mengeluh soal ini. Tapi mau bagaimana lagi, mungkin truk-truk yang lebih canggih kacanya bisa meredam cahaya silau,” kata Sutoyo.

Kendati demikian, dia memaklumi keluhan yang disampaikan Bahri Shohibul lewat akun Persatuan Sopir Truk Indonesia. Sutoyo pun mengatakan siap menampung keluhan sopir, sembari berharap ada tindakan tegas dan nyata dari para penegak hukum.

”Jangankan sopir truk, kami sabagai pengendara biasa kadang juga geregetan kalau berpapasan dengan mobil yang lampunya putih terang. Semoga makin banyak orang menyadari hal ini,” kata Sutoyo.

PenulisDonny Apriliananda
EditorAgung Kurniawan
Komentar
Close Ads X