Kompas.com - 28/08/2022, 08:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pertamina ternyata tak hanya memberikan subsidi bagi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar dan Pertalite, tapi juga Pertamax.

Fakta ini diungkapkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Konferensi Pers Tindak Lanjut Hasil Rakor Kemenko Perekonomian, terkait Subsidi BBM, Jumat (26/8/2022).

Menurut Sri Mulyani, Pertamax yang pada umumnya digunakan oleh mobil-mobil bagus ikut menikmati subsidi dari pemerintah lantaran harga asli atau keekonomiannya ternyata lebih mahal.

"Pertamax dengan harga sekarang di Rp 12.500 per liter, seharusnya harga berdasarkan ICP (minyak mentah) dan kurs yang saat ini Rp 14.700, itu harusnya (harga Pertamax) di Rp 17.300 per liter," ujar Sri Mulyani.

Baca juga: Ketahui Dampak Buruk Gonta-ganti Jenis BBM

Suasana pengisian bahan bakar di SPBU MT Haryono, Selasa (28/6/2022)KOMPAS.com/Serafina Ophelia Suasana pengisian bahan bakar di SPBU MT Haryono, Selasa (28/6/2022)

"Jadi, bahkan Pertamax sekalipun yang dikonsumsi mobil-mobil yang biasanya bagus, berarti yang juga pemiliknya (orang) mampu itu, setiap liternya mereka mendapatkan subsidi Rp 4.800 per liter," lanjutnya.

Selanjutnya, Sri Mulyani juga menjabarkan bila harga keekonomian untuk Pertalite dan Solar, cukup tinggi bila tanpa subsidi.

Untuk Pertalite dengan kondisi ICP dan posisi Dollar Amerika Serikat pada Rp 14.700, banderol per liter seharusnya mencapai Rp 14.450, cukup jauh dengan kondisi saat ini yang dijual Rp 7.650 per liter.

Baca juga: Biaya Isi Bensin Full Tank Nmax dan Beat jika Pertalite Naik

Sementara untuk Solar, harga saat ini dipasarkan sebesar Rp 5.150 per liter, untuk aslinya mencapai Rp 13.950 per liter.

Dengan demikian, pemerintah memberikan subsidi sebesar Rp 8.800 per liter bagi masyarakat yang membeli Solar.

Ilustrasi Kios Pertamina Siaga Shutterstock/Wisely Ilustrasi Kios Pertamina Siaga

Dengan tingginya konsumsi bahan bakar subsidi yang diklaim banyak digunakan orang mampu, Sri Mulyani memperkirakan kuota yang ditargetkan dalam APBN akan habis pada Oktober 2022.

"Kalau kita asumsikan volume konsumsi (BBM) mengikuti selama delapan bulan terakhir, kuotanya akan habis di bulan Oktober, kalau konsumsinya tetap sama. Setiap bulan (konsumsinya) 2,4 juta KL. Kalau ini diikuti, bahkan akhir September ini habis untuk Pertalite," ujar Sri Mulyani.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.