Regulasi Konversi Kendaraan Niaga Jadi Listrik Siap Terbit

Kompas.com - 17/08/2022, 08:42 WIB

TANGERANG, KOMPAS.com - Aturan mengenai konversi sepeda motor konvensional menjadi motor listrik sudah resmi dibuat. Sedangkan untuk kendaraan lain seperti mobil, bus, dan truk tengah disiapkan pemerintah.

Dewanto Purnacandra, Kasubdit Uji Tipe Kendaraan Bermotor Direktorat Sarana Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan mengatakan, rancangan peraturan menteri tersebut sudah mendapatkan persetujuan dari presiden.

"Sudah persetujuan presiden melalui Setneg, tinggal tunggu pengundangan, penomoran. Hal yang selanjutnya dilakukan sosialisasi dulu," ucapnya di Tangerang, Selasa (16/8/2022).

Baca juga: Lihat Detail Bus Unik Jetbus Transit yang Jadi Studio Berjalan

Bus listrik sudah tersedia dan beroperasi di Jakarta International Stadium (JIS) di Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/3/2022). Berdasarkan laporan mingguan ke-131 dari PT Jakarta Propertindo mencatat bahwa progres realisasi pembangunan stadion yang diproyeksikan berkapasitas 82.000 penonton itu telah mencapai 98,26 persen.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Bus listrik sudah tersedia dan beroperasi di Jakarta International Stadium (JIS) di Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/3/2022). Berdasarkan laporan mingguan ke-131 dari PT Jakarta Propertindo mencatat bahwa progres realisasi pembangunan stadion yang diproyeksikan berkapasitas 82.000 penonton itu telah mencapai 98,26 persen.

Regulasi ini, kata Dewanto, bukan cuma mengatur soal konversi mobil konvensional jadi listrik. Tapi, termasuk juga aturan konversi untuk kendaraan niaga seperti bus dan truk. Juga ada berbagai syarat yang harus dipenuhi agar bisa melakukan konversi.

"Jadi bisa dan membolehkan dengan syarat-syarat yang ada di peraturan. Bengkel yang sudah disertifikasi dan kendaraan tersebut harus punya surat-surat yang lengkap STNK, dan mengikuti uji yang berlaku," kata Dewanto.

Soal konversi bus, salah satu hal yang diatur pada regulasi adalah posisi peletakan baterai. Berbeda dengan bus konvensional, posisi baterai tidak bisa asal taruh semuanya di bagian belakang sasis.

Baca juga: Pembeli Stargazer Bisa Tukar Unit Baru jika Mengalami Kecelakaan


"Makanya di calon PM tersebut mengatur peletakkan baterai, supaya jangan sampai titik beratnya enggak seimbang. Misalnya berat belakang nanti berisiko kalau tabrak belakang," ucap Dewanto.

Dewanto mendapatkan kabar kalau sudah banyak perusahaan yang mau melakukan konversi. Namun, harus ditunggu juga peresmian PM tersebut agar para bengkel bisa mendaftarkan dan segera lakukan konversi.

"Dia (bengkel) daftar, verifikasi, kami cek lapangan, kalau memenuhi syarat nanti dapat sertifikat sebagai bengkel karoseri, baru nanti mereka bisa (konversi)," kata Dewanto.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.