Kompas.com - 08/08/2022, 09:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Industri pembiayaan atau leasing optimis permintaan kredit kendaraan bermotor di Indonesia tetap terjaga pada semester kedua tahun ini, kendati mulai muncul sentimen negatif yang berpotensi menekan angka penjualan.

Salah satunya, ialah kenaikan inflasi yang kemudian berpotensi untuk mengerek suku bunga acuan (BI Rate) dalam waktu dekat sehingga menghambat daya atau minat beli masyarakat.

Walau demikian, seperti dikatakan Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno, di pasar domestik masih ada sentimen positif yakni tingginya kebutuhan para pemilik mobil untuk berganti kendaraan.

Baca juga: Tidak Ada Pebalap Honda yang Masuk 10 Besar di MotoGP Inggris

Mandiri Tunas Finance tawarkan promo kredit mobil listrik di ajang PEVS 2022.KOMPAS.com/DIO DANANJAYA Mandiri Tunas Finance tawarkan promo kredit mobil listrik di ajang PEVS 2022.

Hal tersebut, seiring dengan cukup banyaknya model kendaraan baru yang dirilis tahun ini. Selain itu, tingkat mobilitas pun masih terjaga seiring meredanya atas pandemi Covid-19.

“Buat perusahaan pembiayaan, saya yakin debitur yang mau membeli mobil dan motor itu kalau suku bunga naik dua sampai tiga persen tak terlalu terpengaruh," kata dia belum lama ini.

"Pernah kita mengalami namanya suku bunga kredit perbankan sampai 18 persen pun, tetap orang beli kendaraan waktu itu,” tambah Suwandi.

Selain itu, ia meyakini para pemangku kepentingan juga tak akan menghadirkan kebijakan yang berpotensi menekan daya beli masyarakat secara seketika pada tahun ini sebagai respons kejadian global terkait.

Sebab pembiayaan konsumen begitu efektif menjadi bahan bakar pemulihan ekonomi nasional pada krisis-krisis sebelumnya.

Baca juga: Cara Bayar Pajak Kendaraan Bermotor Pakai Aplikasi Signal

Ilustrasi kredit mobil, leasing, perusahaan pembiayaan.istimewa Ilustrasi kredit mobil, leasing, perusahaan pembiayaan.

Tantangan lain yang berpotensi menjadi penghambat penyaluran pembiayaan secara lebih signifikan, berasal dari keterbatasan pasokan mobil dan motor, akibat fenomena kelangkaan cip semikonduktor.

Ia melihat bahwa krisis cip merupakan dampak lockdown China, selain fenomena krisis serupa sebelumnya yang disebabkan para produsen cip memprioritaskan industri barang elektronik dan gadget ketimbang industri otomotif.

“Tapi optimisme kami masih tinggi, berasal dari para dealer mobil dan motor, di mana begitu banyaknya surat pemesanan kendaraan (SPK) yang masuk, tapi supply tak bisa memenuhi," kata dia.

"Padahal sebentar lagi ada pameran otomotif besar, euforia terhadap kendaraan listrik juga mulai membanjiri masyarakat Indonesia. Artinya, tantangannya kita tinggal soal krisis komponen,” ujarnya lagi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.