Dikenakan Tarif PPnBM, Kemenperin Percaya LCGC Akan Tetap Laku

Kompas.com - 16/12/2021, 20:01 WIB
Ilustrasi jajaran produksi Daihatsu di segmen LCGC (Low Cost Green Car) atau mobil murah. DOK. ASTRA DAIHATSU MOTORIlustrasi jajaran produksi Daihatsu di segmen LCGC (Low Cost Green Car) atau mobil murah.
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mempercayai bahwa segmen atas Kendaraan Bermotor Hemat Energi dan Harga Terjangkau (KBH2) alias Low Cost Green Car (LCGC) akan tetap laju dalam aturan PPnBM baru.

Pasalnya, kenaikan instrumen PPnBM sebesar 3 persen dari nol persen tak akan begitu berpengaruh terhadap pasar, karena pendapatan masyarakat dan tingkat inflasi telah menyesuaikan.

Terlebih, saat ini segmen LCGC sudah punya peminat tersendiri, yakni para pembeli mobil pertama dengan dana terbatas dan kendaraan ringkas atau mudah dikendarai serta mudah perawatan.

Baca juga: Duo Korsel Masih Terseok-seok di Tengah Dominasi Jepang

Daihatsu Ayla, Honda Brio, dan Toyota Agya adalah para pemain di segmen LCGCGRIDOTO.com/RIANTO PRASETYO Daihatsu Ayla, Honda Brio, dan Toyota Agya adalah para pemain di segmen LCGC

Demikian dikatakan Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kemenperin Sony Sulaksono, Rabu (15/12/2021).

“PPnBM mobil LCGC itu hanya 3 persen, jadi tidak terlalu berdampak,” ujar dia.

"Pemerintah RI terus mendorong pengembangan berbagai teknologi mobil yang ramah lingkungan, tidak terbatas hanya pada kendaraan listrik murni (battery electric vehicle)," lanjut Sony.

Awalnya, kendaraan di segmen LCGC mendapat keistimewaan perpajakan karena dibebaskan dari PPnBM sebagaimana tertuang dalam Permenperin No.33/2013 tentang Pengembangan Produksi Kendaraan Bermotor Roda Empat yang Hemat Energi dan Harga Terjangkau.

Lewat beleid tersebut, sontak LCGC mendapat sambutan positif dari pasar domestik. Sampai saat ini, segmen terkait masih menduduki yang terbesar dengan kontribusi mencapai 20 persenan.

Namun seiring berjalannya waktu, fokusan Pemerintah RI terhadap mobil beremisi rendah semakin meluas. Sehingga, LCGC dikenakan tarif PPnBM karena dianggap masih mengeluarkan emisi gas buang meski kecil.

Baca juga: Kenali Penyebab Mobil Baru Bisa Terbakar

Honda Brio Satya CVTKOMPAS.COM/STANLY RAVEL Honda Brio Satya CVT

Aturan itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 73/2019 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah.

Pada pasal 25, LCGC disebut terkena tarif sebesar 15 persen dengan dasar pengenaan pajak sebesar 20 persen dari harga jual. Artinya, mobil dengan segmentasi terkait terkena PPnBM 3 persen.

Beleid tersebut berlaku dua tahun sejak diterbitkan, hingga pada akhirnya pemerintah merilis PP No 74/2021 tentang perubahan atas PP No 73/2021. Namun, di aturan yang berlaku 16 Oktober 2021 itu, tak terjadi perubahan dalam pasal terkait pengenaan PPnBM untuk LCGC.

Hanya saja saat ini harga LCGC belum berubah karena diberikan insentif sampai akhir tahun sebagaimana tertuang dalam Kepmenperin Nomor 1737/2021.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.