3 Faktor yang Bikin Indonesia Percepat Program Kendaraan Listrik

Kompas.com - 26/11/2021, 07:12 WIB
Ilustrasi kendaraan listrik (Dok. Shutterstock/ Smile Fight)Ilustrasi kendaraan listrik

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyatakan sedikitnya terdapat tiga aspek penting yang jadi perhatian dalam program percepatan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) di dalam negeri.

Hal itu tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang percepatan program KBLBB untuk transportasi jalan. Apabila bisa dicapai, Tanah Air berpotensi menjadi pemain global di industri terkait.

"Pada Perpres no 55 tahun 2019, terdapat tiga aspek yang harus dipahami bersama. Yaitu, lingkungan dan konservasi, efisien dan ketahanan energi, serta aspek peningkatan kapasitas industri dan kemampuan daya saing," ujar Moeldoko di IEMS 2021, Rabu (23/11/2021).

Baca juga: Bukan Xpander Hybrid, Tahun Depan Mitsubishi Mulai Studi Minicab MiEV

Ilustrasi stasiun pengisian kendaraan listrikPixabay/geralt Ilustrasi stasiun pengisian kendaraan listrik

Pada aspek pertama, ia menyatakan bila sektor lingkungan dan konservasi merupakan salah satu isu penting. Mengingat, pengurangan tingkat emisi CO2 jadi perhatian pemerintah RI.

Bahkan, Indonesia sudah berkomitmen untuk menurunkan emisi karbon 29 persen pada 2030 atau 41 persen di tahun yang ama apabila mendapatkan dukungan dan berkerja sama secara international.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Pemerintah Indonesia juga memiliki semangat yang sangat kuat menekan emisi gas buang pada 2060 nol persen," kata Moeldoko.

Sementara pada aspek yang kedua, yakni efisiensi dan ketahanan energi, juga tidak kalah pentingnya untuk mempercepat era elektrifikasi kendaraan listrik di Indonesia.

Melalui langkah yang tepat, perekonomian negara akan jauh lebih baik dari saat ini karena terdapat potensi pengurangan impor bahan bakar minyak (BBM).

"Konsumsi BBM kita mencapai 1,8 juta barrel per hari, sedangkan produksi kita baru bisa sekitar 700.000 barrel per hari. Jadi, impornya kurang lebih 60 persen," ujar dia.

Baca juga: Perbandingan Emisi Gas Buang Kendaraan Listrik dengan Konvensional

Ilustrasi kendaraan listrik.(Dok. Shutterstock/Sopotnicki) Ilustrasi kendaraan listrik.

"Kalau dibiarkan dan tidak segera menuju mengembangkan mobil listrik maka semakin tidak beres karena kebutuhan energi semakin meningkat. Bila ada transisi energi, maka bisa lebih efisien," tambah Moeldoko.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.