BRIN Buka Peluang Kolaborasi Riset Mobil Listrik di Indonesia

Kompas.com - 25/11/2021, 07:02 WIB
Booth asosiasi kendaraan listrik Periklindo pada ajang IEMS 2021 KOMPAS.com/DIO DANANJAYABooth asosiasi kendaraan listrik Periklindo pada ajang IEMS 2021

TANGERANG, KOMPAS.com – Tren kendaraan listrik dalam negeri diprediksi bakal menemui banyak masalah dan kendala dalam perjalanannya, termasuk implementasi di Indonesia. Oleh sebab itu, perlu dilakukan aktivitas riset dan pengembangan sebagai bagian dari industri yang berkelanjutan.

Laksana Tri Handoko, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan, aktivitas riset merupakan kegiatan yang menyedot banyak biaya dan berisiko, sehingga pemerintah harus hadir.

“BRIN hadir dalam konteks membantu semua pihak termasuk kementerian atau lembaga dan pelaku usaha untuk masuk ke aktivitas riset dengan investasi yang seminimal mungkin,” ujar Handoko, dalam pembukaan IEMS 2021 di Serpong, Tangerang (24/11/2021).

Baca juga: Ganjil Genap Tetap Berlaku di Tempat Wisata Selama PPKM Level 3 Libur Nataru

Suasana pameran IEMS 2021KOMPAS.com/Dio Suasana pameran IEMS 2021

Untuk diketahui, riset dan pengembangan belum tentu berhasil dilakukan seorang peneliti, sehingga banyak swasta yang enggan terlibat dalam kegiatan tersebut.

Padahal, itu merupakan sesuatu yang lumrah dalam aktivitas riset. Ia pun mengajak para pelaku usaha, baik UMKM maupun pelaku usaha besar, untuk memberikan problem kepada BRIN sebagai bahan dasar penelitian.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Jadi tolong dibawakan problem lah dari Kemenko Marves, ESDM, Kemenperin, atau dari pelaku usaha,” kata Handoko.

Baca juga: Adu Jumlah SPK di GIIAS 2021, Lebih Banyak Veloz atau Xpander?

Tim Arjuna dari UGM hadir di IEMS 2021KOMPAS.com/Dio Tim Arjuna dari UGM hadir di IEMS 2021

Ia menambahkan, siapapun yang melakukan kegiatan riset secara kolaboratif dengan pihaknya tidak akan dikenakan biaya.

“Tapi, kalau berhasil saya minta sharing property right-nya. Kita lisensi kembali. Lisensinya minimal 60 persen akan dikembalikan ke Negara sebagai PNBP, yang 40 persen saya serahkan ke inventornya, ke bapak atau ibu periset saya,” ucap Handoko.

Menurut Handoko, kegiatan riset rata-rata kemungkinan keberhasilannya hanya 20 persen. Bahkan, untuk riset jenis obat-obatan dan vaksin kemungkinan keberhasilannya hanya 10 persen.

Baca juga: Ada Oknum Nakal Modus Sewa Kendaraan di Bali, Cek Kendaraan Dahulu

Ilustrasi platform mobil listrik HyundaiKOMPAS.com/DIO DANANJAYA Ilustrasi platform mobil listrik Hyundai

“Itu sebabnya kalau yang obat saya minta sampai 90 persen royaltinya kalau berhasil, yang saya minta ke inventornya 10 persen atau maksimal 20 persen,” ujar dia.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.