Pengusaha Truk Setuju Adanya Sistem Poin SIM pada Pelanggar

Kompas.com - 03/06/2021, 15:01 WIB
Truk pengangkut gabah terguling setelah menyeruduk toko di Jalan Brawijaya, Mangli, Jember, Kamis (18/3/2021). (SURYA.CO.ID/SRI WAHYUNIK)Truk pengangkut gabah terguling setelah menyeruduk toko di Jalan Brawijaya, Mangli, Jember, Kamis (18/3/2021).

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepolisian Republik Indonesia (Polri) sudah mengeluarkan aturan baru soal sanksi lalu lintas bagi pengendara kendaraan bermotor. Jadi tidak hanya sanksi tilang, tetapi ada poin yang menandakan besaran sanksinya.

Ada jumlah akumulatif dari poin pelanggaran tersebut yang berdampak penahanan surat izin mengemudi (SIM) sementara, tidak bisa memperpajang, hingga pencabutan SIM.

Menanggapi aturan ini, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Tengah dan DIY Bambang Widjanarko mengatakan sangat setuju dengan adanya penggunaan poin kepada pengendara ketika melakukan pelanggaran lalu lintas.

Baca juga: Ini Kode yang Dilakukan Kru Bus AKAP Saat Ada Pencopet di Kabin

Sopir truk melambung ke kanan Jalan Barito 1, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan agar tak tersangkut kabel yang semrawut dan menjuntai ke jalan pada Jumat (26/2/2021) sore.KOMPAS.com/WAHYU ADITYO PRODJO Sopir truk melambung ke kanan Jalan Barito 1, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan agar tak tersangkut kabel yang semrawut dan menjuntai ke jalan pada Jumat (26/2/2021) sore.

“Semua pemilik usaha yang pernah kuliah di luar negeri setuju dengan adanya sistem poin pada pelanggaran lalu lintas. Harapannya jika itu benar diterapkan, jangan sampai jadi ladang pungutan liar (pungli),” ucap Bambang kepada Kompas.com, Rabu (3/6/2021).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Adanya aturan ini harapannya bisa membuat pengemudi lebih tertib. Sebab, jika truk mengalami kecelakaan karena kesalahan pengemudinya, tentu akhirnya para pengusaha juga yang merugi.

“Kami itu concern dengan kecelakaan, enggak ingin terjadi. Karena kalau kecelakaan, nanti uangnya enggak masuk kantong, malah dibuat untuk nombok,” kata Bambang.

Baca juga: Harga Baru Toyota Avanza dengan Diskon PPnBM 50 Persen

“Menurut saya, mengemudi di Indonesia itu kebanyakan orang cuma memindahkan mobil dari satu tempat ke tempat lain. Skill orang Indonesia bisa dibilang tidak terbantahkan, namun soal attitude dan knowledge, nol besar,” kata Bambang.

Bambang mengatakan, attitude pengemudi di Indonesia masih kurang, sering mengamuk di jalan, emosi, jadi berantakan.

Lalu soal knowledge, mereka enggak tahu dan tidak menguasai apa yang sedang dikemudikan.

“Misalkan mereka enggak tahu tekanan ban terlalu tinggi efeknya apa. Mereka harus tahu apa saja fungsi dari kendaraannya,” ucapnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X