Menggunakan BBM Oktan Tinggi Tak Berarti Selalu Baik buat Kendaraan

Kompas.com - 14/05/2021, 16:15 WIB
Petugas SPBU menggunakan alat pelindung wajah saat melayani pengendara di SPBU Pertamina 31.128.02 di Jl. Letjen M.T. Haryono, Jakarta Timur, Senin (1/6/2020). Penggunaan alat pelindung wajah (Face Shield) tersebut sebagai salah satu upaya untuk melindungi diri saat berhubungan langsung dengan pengendara dalam pencegahan penyebaran COVID-19. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetugas SPBU menggunakan alat pelindung wajah saat melayani pengendara di SPBU Pertamina 31.128.02 di Jl. Letjen M.T. Haryono, Jakarta Timur, Senin (1/6/2020). Penggunaan alat pelindung wajah (Face Shield) tersebut sebagai salah satu upaya untuk melindungi diri saat berhubungan langsung dengan pengendara dalam pencegahan penyebaran COVID-19.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pada mobil keluaran baru umumnya sudah memiliki spesifikasi mesin yang berbeda. Dengan tingkat kerapatan yang makin persisi membuat kompresi mesin menjadi lebih padat.

Hasilnya, ada banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Seperti pelumas yang lebih cair, sampai anjuran soal masalah pemakaian bahan bakar minyak (BBM) yang wajib menggunakan oktan tinggi layaknya Research Octane Number (RON) 92.

Namun perlu digarisbawahi, BBM oktan tinggi bukan berarti lebih baik dari premium atau oktan rendah.

Pasalnya, meski diklaim ramah lingkungan dan mampu menghasilkan perfoma yang lebih baik, tapi BBM oktan tinggi tidak bisa sembarang dikonsumsi oleh mobil lawas.

Baca juga: H-1 Lebaran, 431.768 Kendaraan Telah Melintas di Tol Trans Sumatra

Head Product Improvement/EDER Dept Technical Service Division PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Bambang Supriyadi mengatakan, BBM oktan tinggi memang baik dikonsumsi oleh mobil baru yang memiliki tingkat kompresi lebih padat. Tapi lain cerita untuk mobil dengan kompresi yang masih di bawah 10.

Ilustrasi mobil lawas yang ikut uji emisi di DKI JakartaKOMPAS.COM/STANLY RAVEL Ilustrasi mobil lawas yang ikut uji emisi di DKI Jakarta

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Bila (mobil lawas) tidak disesuaikan, maka akan ada masalah karena pembakarannya justru nanti tidak sempurna. Kerugian dipengguna kendaraan, pasti akan ada perawatan lebih karena banyaknya kerak yang mengendap di ruang mesin,” ujar Bambang kepada Kompas.com, Senin (11/5/2021).

Baca juga: Cuci Mobil Pakai Alat Hidrolik Bikin Spooring Berubah, Mitos atau Fakta?

Menurut Bambang, pihak pabrikan menyarankan nilai oktan sesuai rekomendasi agar pembakaran BBM dapat dikontrol. Indkator pembakaran yang bisa dikontrol adalah saat bensin terbakar habis waktu proses pengapian.

Kalau tidak terbakar secara sempurna, maka akan ada sisa-sisa partikel yang tidak habis terbakar. Sisa pembakaran itu nantinya akan berefek pada emisi, sensor tutup kerak, dan lain sebagainya.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.