Sri Mulyani Siapkan Insentif buat Mobil Listrik

Kompas.com - 16/03/2021, 14:41 WIB
Ilustrasi soket pengisian daya mobil listrik UNPLASH.comIlustrasi soket pengisian daya mobil listrik
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Keuangan mengakui bahwa permintaan kendaraan bermotor berbasis listrik di dalam negeri saat ini masih rendah seiring harga jual yang sangat tinggi.

Di samping itu, Indonesia masih dalam tahap awal dalam era elektrifikasi kendaraan sehingga banyak faktor pendukung yang belum sempurna, seperti ketersediaan SPKLU dan skema perpajakannya.

"Penjualan dari electric vehicle di sini masih sangat rendah. Tentu ini karena memang masih tahap early dan kita lihat faktor perpajakan nanti, serta infrastruktur pendukungnya," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR, Senin (15/3/2021).

Baca juga: Inkonsisten, Pemerintah Usul Revisi Aturan PPnBM Mobil Listrik

Ilustrasi tempat pengecasan mobil listrik.PIXABAY.com Ilustrasi tempat pengecasan mobil listrik.

Oleh karenanya, pemerintah tengah mengkaji beragam insentif untuk industri terkait seperti menggeratiskan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) bagi mobil listrik murni alias Battery Electric Vehicle (BEV).

Lebih jauh, Kepala BKF Febrio Kacaribu mengatakan, kebijakan serupa dilakukan oleh pemerintah China sehingga harga mobil listrik yang sebelumnya mencapai 3,4 kali dari harga mobil konvensional bisa turun jadi 1,9 kali-nya.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Jadi memang kebijakan ini mendorong masyarakat untuk mulai melihat kemampuannya untuk membeli mobil listrik dengan emisi yang lebih baik," jelas Febrio

Selain China, Jepang juga memberlakukan insentif untuk meningkatkan minat pasar terhadap pembelian mobil listrik. Di sana, harga mobil listrik turun dari 2 kali menjadi 1,7 kali dari harga konvensional.

Baca juga: Sri Mulyani Buka Peluang Insentif Pajak bagi Innova dan Fortuner

Usulan tarif PPnBM Mobil ListrikKOMPAS.com/Ruly Usulan tarif PPnBM Mobil Listrik

Thailand, sebagai pesaing industri otomotif terkuat di Asia Tenggara pun melakukan hal sama. Bahkan, insentif yang diberikan cukup agresif yakni mengurangi pajak kendaraan sekaligus cukai dari 25 persen jadi 2 persen.

Namun demikian, Febrio mengatakan, agar efektif, pemberian insentif pajak ini juga harus dibarengi dengan kemampuan atau daya beli masyarakat.

"Di Inggris dan Jerman juga, ini untuk meningkatkan market share mobil listrik, walau masyarakat juga harus merespon dengan daya beli yang akan berpengaruh terhadap peningkatan (market share) ini akan tajam atau tidak," ujar Febrio.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X