Miris, Parodi MotoGP dengan Aksi Kebut-kebutan Bus di Jalan Tol

Kompas.com - 05/03/2021, 18:23 WIB
Tangkapan layar video viral yang menampilkan kejadian kecelakaan lalu lintas melibatkan bus dan sepeda motor di Sukoharjo, Jawa Tenga, Jumat (19/2/2021). FACEBOOKTangkapan layar video viral yang menampilkan kejadian kecelakaan lalu lintas melibatkan bus dan sepeda motor di Sukoharjo, Jawa Tenga, Jumat (19/2/2021).

Saat mengemudi di jalan raya, kita bisa menemukan berbagai macam kendaraan, mulai dari yang kecil hingga yang besar. Saat berada di belakang kendaraan yang besar, seperti truk dan bus, tentu butuh teknik khusus agar tetap aman.

Berada di belakang kendaraan yang dimensinya panjang dan besar membutuhkan kesabaran. Jika nekat, malah bisa terjadi kecelakaan.

Justri Pulubuhu, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDCC), mengatakan, para pengendara diimbau untuk menjaga jarak aman dan tidak mendahului saat berada dalam kondisi tersebut.

"Apalagi kalau keadaan lalu lintas padat. Patut diketahui, tabrak belakang (menabrak bagian belakang truk) itu kasusnya cukup banyak dan dampaknya bisa fatal. Jaga jarak aman adalah jurus paling ampuh," ujar Jusri, saat dihubungi Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Jusri menambahkan, sering kali ketika sudah membuat jarak aman yang cukup jauh dari truk, tiba-tiba ada kendaraan lain yang masuk untuk nyalip. Tentunya, hal tersebut sangat berbahaya.

 

Patut diingat bahwa truk bermuatan punya jarak pengereman yang lebih panjang karena momen inersia.

"Bagaimana sebaiknya? Sabar saja, biarkan kendaraan yang menyalip itu melaju duluan supaya perjalanan kita tetap aman dan nyaman. Jangan emosi di jalan, tapi jangan pula seenaknya karena jalanan umum itu hak orang banyak," kata Jusri.

Jusri menjelaskan, jarak aman yang paling baik saat berkendara adalah menggunakan alat bantu patokan statik, seperti marka jalan atau plang penunjuk arah atau waktu, dengan selisih waktu minimum 3 detik.

Misalkan, kecepatan berkendara adalah 30 kilometer per jam (kpj), maka jarak aman minimum dengan kendaraan di depan adalah 15 meter. Sedangkan jarak amannya, kurang lebih 30 meter. Jika kecepatan kendaraan.

Tol Cipali memberlakukan contraflow di sekitar ruas jalan yang amblas (9/2/2021).DOK. ASTRA TOL CIPALI Tol Cipali memberlakukan contraflow di sekitar ruas jalan yang amblas (9/2/2021).

Jika kecepatan kendaraan adalah 40 kpj, maka jarak minimal yang harus dipenuhi adalah 20 meter dan jarak aman yang dimiliki 40 meter, dan begitu seterusnya.

"Mudahnya, perhatikan waktu pengereman kendaraan kita dengan jarak truk itu. Jangan sampai terlalu dekat, buat saja rongga (jarak) yang lebih jauh dibanding berada di belakang kendaraan biasa. Lalu pro aktif, karena truk itu punya banyak blindspot," ujar Jusri.

Menurut Jusri, tak ada salahnya untuk memberikan sinyal klakson dan dim sebagai tanda keberadaan saat akan menyalip truk atau bus.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X