Parkir di Pinggir Jalan Berhubungan Aturan dan Etika

Kompas.com - 04/02/2021, 16:42 WIB
Petugas Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur saat menderek mobil yang parkir di bahu Jalan Pemuda, Jakarta Timur, Kamis (21/11/2019). KOMPAS.COM/DEAN PAHREVIPetugas Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur saat menderek mobil yang parkir di bahu Jalan Pemuda, Jakarta Timur, Kamis (21/11/2019).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Lahan yang terbatas sedangkan jumlah kendaraan makin banyak membuat kesenjangan antara lahan parkir dengan mobil atau sepeda motor.

Tak ayal banyak mobil atau motor yang parkir sembarangan dan mengganggu kenyamanan. Mulai parkir di bahu jalan, depan rumah orang atau trotoar untuk pejalan kaki.

Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu, mengatakan, bicara parkir di pinggir jalan maka merujuk pada dua hal yaitu soal peraturan dan etika.

"Bicara soal parkir di badan jalan ada dua, yaitu aturan dan etika. Aturan berdasarkan legalitas hukum. Kalau etika tidak ada aturan tapi berdasarkan empati," kata Justi kepada Kompas.com, Kamis (4/2/2021).

Mobil mewah parkir sembarangan di trotoarFoto: Tangkapan layar @jabodetabek.terkini • Mobil mewah parkir sembarangan di trotoar

Jusri mengatakan, parkir di bahu jalan dibenarkan selama tidak ada larangan dilarang parkir atau dilarang setop.

Meski demikian kata Jusri, tidak selamanya jika tak ada larangan kemudian pemilik kendaraan bisa parkir seenaknya.

"Aturan itu linier dengan bahaya. Jadi kalau seandainya tidak ada rambu tapi berbahaya, seperti di tikungan, karena kadang rambu suka tidak ada di radius 30 meter, maka sebaiknya tidak parkir," katanya.

Sebab jika terjadi kasus kecelakaan maka pemilik kendaraan yang parkir bisa ikut terlibat.

"Karena pada saatnya jika ada kasus dan dibawa ke hukum maka kondisi lingkungan akan diperhitungkan oleh hakim," kata Jusri.

Kedua soal etika. Seperti disebutkan etika tidak berlandaskan hukum tapi empati. Hal ini yang kata Jusri merupakan masalah masyarakat Indonesia sekarang.

Sebanyak 700 sepeda motor milik para pengunjung hingga panitia Asian Games diangkut petugas karena parkir sembarangan, Kamis (23/8/2018).KOMPAS.com/ Aji YK Putra Sebanyak 700 sepeda motor milik para pengunjung hingga panitia Asian Games diangkut petugas karena parkir sembarangan, Kamis (23/8/2018).

"Kalau ada keramaian misalnya orang sudah parkir di kiri di bahu jalan, dan dari arah berlawanan kita parkir di depan persis bersampingna di jalur kita. Memang tidak dilarang tapi tidak etis," katanya.

"Mengapa, karena akan membuat kemacetan. Artinya parkir dengan mempertimbangkan kenyamanan, keamanan dan kelancaran lalu lintas yang ada," kata Jusri.

"Jangan sampai kita parkir, meski tidak ada larangannya tapi itu membuat kenyamanan, kelancaran bahkan keselamatan orang lain terganggu. Karena jalan raya adalah ruang publik," katanya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X