Bensin Eceran Lebih Mahal, YLKI Sebut Masyarakat Siap Beli Pertalite

Kompas.com - 17/11/2020, 08:02 WIB
Petugas SPBU menggunakan alat pelindung wajah saat melayani pengendara di SPBU Pertamina 31.128.02 di Jl. Letjen M.T. Haryono, Jakarta Timur, Senin (1/6/2020). Penggunaan alat pelindung wajah (Face Shield) tersebut sebagai salah satu upaya untuk melindungi diri saat berhubungan langsung dengan pengendara dalam pencegahan penyebaran COVID-19. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetugas SPBU menggunakan alat pelindung wajah saat melayani pengendara di SPBU Pertamina 31.128.02 di Jl. Letjen M.T. Haryono, Jakarta Timur, Senin (1/6/2020). Penggunaan alat pelindung wajah (Face Shield) tersebut sebagai salah satu upaya untuk melindungi diri saat berhubungan langsung dengan pengendara dalam pencegahan penyebaran COVID-19.

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah sempat menggulirkann wacana menghapus BBM jenis Premium pada awal 2021. Rencananya BBM bersubsidi ini bakal dihilangkan di area Jawa, Madura, dan Bali (Jamali).

Hal ini diungkap oleh Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan MR Karliansyah, dalam diskusi virtual yang digelar, Jumat (13/11/2020).

“Syukur alhamdulilah pada Senin lalu saya bertemu dengan Direktur Operasional Pertamina, beliau menyampaikan per 1 Januari 2021, Premium di Jamali khususnya akan dihilangkan,” ujar Karliansyah.

Baca juga: Ramai Truk ODOL, Isuzu Ingatkan Pengusaha dan Sopir Kendaraan Niaga

Ilustrasi: Bensin eceran.KOMPAS/AGUS SUSANTO Ilustrasi: Bensin eceran.

Menanggapi rencana tersebut, Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi, mengatakan, rencana tersebut sebetulnya sudah menjadi wacana sejak 2017.

Terutama setelah diterbitkannya Peraturan Menteri (Permen) LHK Nomor 20 Tahun 2017 pada 10 Maret 2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor.

Meski begitu pembahasan rencana ini berhenti pada 2018 karena pemilu. YLKI pun mendorong pemerintah untuk segera menerapkan kebijakan ini.

Baca juga: [VIDEO] Mencoba Tol Cimanggis Cibitung Saat Gratis

Pengendara motor mengantre di SPBU untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis premium, di Bali, Selasa (26/8/2014).AFP PHOTO / SONNY TUMBELAKA Pengendara motor mengantre di SPBU untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis premium, di Bali, Selasa (26/8/2014).

“Ini sebenarnya produk kebijakan yang sangat usang. Mestinya sudah dilakukan sejak lama,” ucap Tulus, kepada Kompas.com (16/11/2020).

Namun mengingat pandemi Covid-19 telah berdampak pada kemampuan ekonomi masyarakat. Pemerintah harus menciptakan rekayasa harga agar masyarakat bisa beralih membeli Pertalite.

Salah satu caranya dengan memperpanjang dan menerapkan diskon Pertalite seharga Premium, seperti yang sudah dilakukan Pertamina sejak beberapa waktu yang lalu.

Baca juga: Sentuh Rekor Michael Schumacher, Begini Spek Mobil F1 Lewis Hamilton

Petugas mengisi BBM bersubsidi jenis PremiumKOMPAS/PRIYOMBODO Petugas mengisi BBM bersubsidi jenis Premium

“Menurut saya sampai beberapa bulan ke depan harus dilakukan, 2-3 bulan ke depan, sampai kemudian konsumen ada stabil dari sisi ekonomi,” kata Tulus.

Tulus juga mengatakan, sebetulnya masyarakat punya kemampuan membeli Pertalite atau bensin di atas RON 90.

Hal ini terlihat dari maraknya penjual bensin eceran yang biasanya mematok harga lebih tinggi dibanding SPBU Pertamina.

“Sekarang banyak penjual bensin eceran, menerapkan harga yang jauh lebih tinggi, selisihnya Rp 2.000, masyarakat membeli juga di sana,” tuturnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X