Pasar Kendaraan Niaga Melemah, Andalkan Segmen Logistik

Kompas.com - 04/09/2020, 07:02 WIB
Kendaraan niaga di GIIAS 2019. Kompas.com/DonnyKendaraan niaga di GIIAS 2019.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pasar kendaraan niaga atau komersial di dalam negeri periode Januari-Juli 2020 mengalami perlambatan hingga 45 persen sebagai dampak dari pandemi virus corona alias Covid-19.

Situasi ini terjadi seiring dengan pembatasan aktivitas industri dan bisnis, tak terkecuali pabrik perakitan.

Di samping itu, perusahaan pembiayaan juga kerap memperketat seleksi pemberian kredit untuk belanja kendaraan bermotor. Sementara, 95 persen konsumen bergantung pada leasing untuk menjalankan bisnisnya.

Baca juga: Mati Suri 20 Tahun, Toyota Starlet Hidup Lagi

Stok kendaraan niaga di pabrik HinoIstimewa Stok kendaraan niaga di pabrik Hino

"Pengusaha bus dan truk 95 persen menggunakan kredit, baik melalui leasing maupun bank. Kini, mereka hanya menerima uang muka 30-40 persen sehingga membuat kondisi pasar buruk," ujar Cheaf Operating Officer PT Hino Motor Sales Indonesia, Santiko Wardoyo belum lama ini.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), total penjualan truk di tujuh bulan pertama tahun ini mencapai 23.367 unit. Sedangkan pada periode sama tahun lalu, agen pemegang merek berhasil mendistribusikan sebanyak 48.785 unit.

"Saat ini memang tren cukup positif (setelah anjlok pada April-Mei) tapi masih jauh dari 2019. Volume penjualan bulanan tahun lalu rata-rata berada di angka 7.200 unit, sekarang kurang lebih 4.000 unit," kata Duljatmono, Director of Sales & Marketing PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) belum lama ini.

Baca juga: Perlu Adanya SOP untuk Pengemudi Truk Saat Sedang Berhenti

Mitsubishi Fuso hadirkan 9 varian baru truk FighterKompas.com/Setyo Adi Mitsubishi Fuso hadirkan 9 varian baru truk Fighter

"Suatu penurunan yang sangat besar dan berat bagi bisnis otomotif, khususnya kendaraan niaga di Indonesia. Kami harap jelang new normal, tren positif bisa dipertahankan," lanjutnya.

Pada kesempatan sama, Duljatmono menyebut bahwa bisnis jasa pengantaran dan pengiriman menjadi salah satu tulang punggung pertumbuhan kendaraan niaga nasional selama pandemi.

Ini turut dipengaruhi oleh tren belanja online saat peride PSBB transisi yang pada akhirnya mempengaruhi lalu lintas barang industri logistik (truk komersil).

"Saat ini porsi permintaan dari sektor logistik pada truk sampai 55 persen, begitu dominan. Kita tentu akan terus berupaya supaya bisa survive dari tantangan ini dan mencari peluang bisnis sesuai perusahaan," kata dia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X