Kompas.com - 25/08/2020, 08:02 WIB
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Beberapa kali libur panjang pada Agustus ini, ternyata tak memberikan pengaruh yang signifikan bagi pertumbuhan penumpang bus antarkota antarprovinsi (AKAP).

Padahal, momen libur panjang banyak dimanfaatkan masyarakat untuk pergi ke luar kota. Mulai dengan tujuan sekadar berliburan sampai pulang ke kampung halaman lantaran tak ada lagi peraturan larangan mudik.

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan mengatakan, pada dua kali musim libur panjang kemarin, yakni saat Kemerdekaan Republik Indonesia dan Tahun Baru Islam, jumlah penumpang bus AKAP tak begitu mengalami lonjakan.

Baca juga: Libur Panjang, Ratusan Ribu Kendaraan Tinggalkan Jakarta

"Peningkatan dibandingkan hari biasa ada, tapi memang tidak banyak. Dari rata-rata penumpang 20-30 persen, dua kali long weekend itu naik di 70 persen dibandingkan hari biasa," kata pria yang akrab disapa Sani kepada Kompas.com, Senin (24/8/2020).

Sejumlah warga membawa barang bawaan menuju bis antar provinsi untuk mudik lebih awal di Terminal Bus Pakupatan, Serang, Banten, Kamis (23/4/2020). Meski pemerintah melarang mudik lebaran tahun 2020, sejumlah warga tetap pulang ke kampung halamannya sebelum puasa dengan alasan sudah tidak ada pekerjaan meski nantinya harus menjalani isolasi mandiri.ANTARA FOTO/ASEP FATHULRAHMAN Sejumlah warga membawa barang bawaan menuju bis antar provinsi untuk mudik lebih awal di Terminal Bus Pakupatan, Serang, Banten, Kamis (23/4/2020). Meski pemerintah melarang mudik lebaran tahun 2020, sejumlah warga tetap pulang ke kampung halamannya sebelum puasa dengan alasan sudah tidak ada pekerjaan meski nantinya harus menjalani isolasi mandiri.

Menurut Sani, peningkatan tersebut ibaratnya hanya membuat kondisi bus yang biasanya kurang dari setengah penumpang menjadi sedikit lebih penuh. Namun, tidak sampai membuat Perusahaan Otobus (PO) menambah jumlah armada.

Kondisi ini cukup miris, padahal tak ada lagi larangan mudik ataupun aturan-aturan yang sifatnya memberatkan bagi masyarakat saat ingin berpergian ke luar kota, khususnya di moda AKAP.

"Kenaikan secara load factor ada, tapi jumlah armada yang dipakai PO ini masih sama, artinya tidak ada penambahan volume unit yang beroperasi. Kita ini sekarang masih beroperasi 40 persen, sementara 60 persen dari armada yang lain masin mengandang," ujar Sani.

Sejumlah kendaraan melaju di tol Jakarta - Cikampek menuju Gerbang Tol Cikampek Utama di Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4/2020). Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya mencatat kenaikan volume arus kendaraan keluar dari Jakarta melalui Pintu Tol Cikampek Utama sebanyak 7.044 kendaraan atau 27 persen jelang pemberlakuan kebijakan larangan mudik mulai Jumat 24 April pukul 00.01 WIB.ANTARA FOTO/MUHAMAD IBNU CHAZAR Sejumlah kendaraan melaju di tol Jakarta - Cikampek menuju Gerbang Tol Cikampek Utama di Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4/2020). Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya mencatat kenaikan volume arus kendaraan keluar dari Jakarta melalui Pintu Tol Cikampek Utama sebanyak 7.044 kendaraan atau 27 persen jelang pemberlakuan kebijakan larangan mudik mulai Jumat 24 April pukul 00.01 WIB.

Sani mengatakan, berkurangnya populasi penumpang bus AKAP lantaran banyak masyarakat yang beralih ke moda transportasi pribadi. Namun paling merugikan lagi, hingga saat ternyata bisnis sewa mobil atau travel gelap juga masih banyak beroperasi tanpa termonitor pemerintah.

Baca juga: 460.000 Kendaraan Keluar Jakarta, Waspada Macet Arus Balik Hari Ini

Kondisi tersebut yang sekarang menjadi dilema bagi sebagian besar pengusaha bus AKAP. Ketika bermain dengan mengikuti regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah, namun di lain sisi, ada oknum yang mengambil kesempatan tanpa ada pengawasan.

"Itu yang terjadi saat ini, masih sangat banyak penyewaan atau travel gelap beroperasi. Kita ini sulit, ikuti aturan pemerintah, naik dan turunkan di terminal, tapi kalau travel gelap bebas bisa ambil penumpang di mana saja, bahkan sampai ada yang menawarkan jemput di rumah," ucap Sani.

Antrean kendaraan terjebak kemacetan di tol Jagorawi menuju Puncak Bogor, Sabtu (15/8/2020). Libur panjang akhir pekan mengakibatkan banyak wisatawan berlibur ke Puncak.KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO Antrean kendaraan terjebak kemacetan di tol Jagorawi menuju Puncak Bogor, Sabtu (15/8/2020). Libur panjang akhir pekan mengakibatkan banyak wisatawan berlibur ke Puncak.

"Jadi shifting yang banyak terjadi adalah perpindahan ke mobil sewa yang tidak umum namun melakukan praktik layaknya transportasi umum. Sampai saat ini pun, soal masalah itu tidak ada tindakan atau solusi," kata dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.