Jangan Pakai Bensin Oktan Terlalu Tinggi, Ini Alasannya

Kompas.com - 21/08/2020, 06:41 WIB
Melalui Pertashop, sekarang warga di pelosok semakin mudah mendapatkan BBM, harganya pun sama dengan di SPBU, Jumat (5/6/2020) Dok: Pertamina MOR 1Melalui Pertashop, sekarang warga di pelosok semakin mudah mendapatkan BBM, harganya pun sama dengan di SPBU, Jumat (5/6/2020)
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Tak sedikit yang berpikir semakin tinggi nilai oktan bahan bakar, akan membuat pembakaran di mesin semakin bagus. Pandangan ini tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar.

Endro Sutarno, Technical Service Division PT Astra Honda Motor, mengatakan, hal yang paling benar ialah memakai bensin dengan nilai oktan yang sesuai dan memang direkomendasikan oleh pabrikan.

Misalnya, mobil atau motor direkomendasi memakai bensin dengan RON 90, sebaiknya disii dengan bensi RON 90, jangan serta merta diisi dengan nilai yang lebih tinggi seperti RON 92 atau RON 98.

Baca juga: Tips Agar Motor Tak Mudah Dicuri Maling

Isi bensin di SPBU Pertamina KOMPAS.com/Ruly Isi bensin di SPBU Pertamina

“Kalau nilai oktan terlalu tinggi, maka bahan bakarnya tidak akan terbakar dengan sempurna. Performa mesin akan berkurang, yang jelas bisa menyebabkan emisi tidak sesuai yang diharapkan,” katanya dalam diskusi virtual belum lama ini.

Nurkholis, National Technical Leader PT Toyota Astra Motor, mengatakan, baik nilai RON terlalu tinggi atau sebaliknya terlalu rendah membuat membuat banyak partikel sisa yang bisa mengendap di mesin.

“Kalau tidak terbakar secara sempurna, maka akan ada sisa-sisa partikel yang tidak habis terbakar. Sisa pembakaran itu akan berefek pada emisinya, sensornya tertutup kerak dan lain sebagainya,” ucap Nurkholis.

Nurcholis mengatakan, pabrikan menyarankan nilai oktan sesuai rekomendasi agar pembakaran BBM dapat dikontrol. Indikatornya adalah saat bensin terbakar habis waktu proses pengapian.

Baca juga: Toyota Luncurkan Yaris Facelift, Harga Mulai Rp 260 Jutaan

Mobil Upacara TNIDelima Jaya Mobil Upacara TNI

Tri Yuswidjadjanto Zaenuri, Ahli Konversi Energi dari Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung, menambahkan, menggunakan bensin beroktan tinggi pada mesin dengan kompresi rendah menyebabkan fuel dilution.

Fuel dilution merupakan percampuran oli dengan bahan bakar. Membuat oli jadi encer dan terjadi perubahan warna serta aroma. Membuat oli tidak dapat melumasi mesin dengan sempurna.

“Oli yang sudah encer sudah tidak mampu membentuk lapisan film, sehingga oli enggak mampu melindungi geseka antar komponen di dalam mesin. Lama-kelamaan komponen yang tidak terlumasi dengan baik bisa rusak bahkan jebol,” kata Tri.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X