Jadi Sopir Truk Jangan dari Kenek yang Naik Pangkat

Kompas.com - 08/06/2020, 20:01 WIB
Kecelakaan dua truk besar di ruas Tol Jagorawi KM 11+700, Cipayung, Jakarta Timur, arah Jakarta, menyebabkan arus lalu lintas Tol Jagorawi arah Jakarta padat merayap, Kamis (19/12/2019). Twitter @TMCPoldaMetroKecelakaan dua truk besar di ruas Tol Jagorawi KM 11+700, Cipayung, Jakarta Timur, arah Jakarta, menyebabkan arus lalu lintas Tol Jagorawi arah Jakarta padat merayap, Kamis (19/12/2019).

JAKARTA, KOMPAS.comKecelakaan yang melibatkan truk sering terjadi di jalan raya. Kejadian seperti truk menabrak mobil yang diam biasa disebabkan karena sopir yang kurang bisa mengendalikan kendaraannya.

Kurangnya kompetensi dari sopir truk bisa disebabkan oleh proses orang tersebut bisa membawa kendaraan. Kebanyakan sopir belajar otodidak, berawal dari kernet kemudian jika sudah lancar, naik jadi sopir.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Budi Setiyadi mengatakan, di Indonesia, sopir truk masih menjadi profesi yang dianggap sebelah mata. Padahal di beberapa negara lain, menjadi sopir truk harus melalui pendidikan terlebih dahulu.

Baca juga: Motor yang Melanggar Ganjil Genap Belum Ditilang sampai Ada Rambu

Warga berkerumun di lokasi kecelakaan truk box milik Bank Indonesia dengan nomor polisi R-9557-AH di Jalan Raya Mandiraja, Desa Kertayasa, Kecamatan Mandiraja, Banjarnegara, Jawa Tengah, Jumat (9/11/2018).Dok Humas Polres Banjarnegara Warga berkerumun di lokasi kecelakaan truk box milik Bank Indonesia dengan nomor polisi R-9557-AH di Jalan Raya Mandiraja, Desa Kertayasa, Kecamatan Mandiraja, Banjarnegara, Jawa Tengah, Jumat (9/11/2018).

“Di sini berbeda, sopir truk bisa jadi awalnya tukang cuci, terus naik jadi kernet, sudah jago maju mundur kemudian jadi sopir,” kata Budi kepada Kompas.com belum lama ini.

Dengan cara seperti itu, pengetahuan sopir tentang operasional truk hanya berdasarkan pengalaman dan kebiasaan. Harus ada proses pematangan hard dan soft skill sopir truk yang benar-benar tepat sasaran.

Sony Susmana, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia, mengatakan, sopir truk membutuhkan penempaan mental dan pengetahuan risiko bahaya juga pemahaman operasional yang benar.

Baca juga: Larangan Mudik Selesai, Keluar Masuk Jakarta Masih Wajib SIKM

“Berdasarkan pengalaman, bisa melakukan pendidikan melalui kelas teori dan praktek untuk sopir truk. Pertama dengan merubah mental personal tiap sopir. Kemudian memberikan pemahaman dan risiko bahayanya dalam operasional,” kata Sony kepada Kompas.com, Senin (8/6/2020).

Setelah itu memberikan konseling apabila ada yang tidak paham, kurang fokus, atau bermasalah. Lakukan komunikasi dua arah. Kemudian prakteknya melakukan roll play, sesi peragaan saat-saat genting, bahaya, dan pencegahannya.

Polisi saat melakukan olah TKP di lokasi kecelakaan di Jalan Raya Mandepo, Desa Setrohadi, Kecamatan Duduksampeyan, Gresik.Dok. Satlantas Polres Gresik Polisi saat melakukan olah TKP di lokasi kecelakaan di Jalan Raya Mandepo, Desa Setrohadi, Kecamatan Duduksampeyan, Gresik.

“Kemudian bisa lakukan olahraga ringan setiap pagi, siang dan sore. Harapannya agar pengemudi lebih terbuka dalam segala hal dan kekeluargaan," ucap Sony.

Melakukan pelatihan yang baik, berdasarkan teori dan praktek yang benar, harapannya sopir truk bisa bertambah kualitasnya. Selain itu dengan sopir yang kompeten, semoga kecelakaan yang melibatkan truk bisa berkurang.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X