Menperin Bujuk Industri Otomotif Taiwan Investasi di Indonesia

Kompas.com - 26/12/2019, 17:13 WIB
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan penjelasan di Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPR, Jakarta, Rabu (11/12/2019). KOMPAS.com/ADE MIRANTI KARUNIA SARIMenteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan penjelasan di Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPR, Jakarta, Rabu (11/12/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan Indonesia menjadi pusat pengembangan produksi kendaraan listrik di kawasan ASEAN pada 2030.

Demi mencapai hal tersebut, pihak Kemenperin melakukan berbagai pendekatan keja sama terhadap industri terkait dari berbagai negara, tidak terkecuali Taiwan. Tujuannya, untuk memperkuat struktur industri di dalam negeri, baik dari hulu sampai hilir.

Dikatakan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Taiwan merupakan salah satu negara penting di dunia otomotif, khususnya roda dua jenis skuter matik yang ramah lingkungan.

Baca juga: Kemenperin Siapkan Peraturan Percepat Industri Kendaraan Listrik

Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan (kiri depan) mengendarai motor listrik di arena Pameran Kendaraan Listrik Masa Depan, kawasan Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (31/8/2019). Kegiatan tersebut mengangkat tema Menuju Indonesia Bersih Udara dan Hemat Energi dengan Kendaraan Listrik.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan (kiri depan) mengendarai motor listrik di arena Pameran Kendaraan Listrik Masa Depan, kawasan Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (31/8/2019). Kegiatan tersebut mengangkat tema Menuju Indonesia Bersih Udara dan Hemat Energi dengan Kendaraan Listrik.

"Salah satu fokus pemerintah adalah merumuskan dan menerbitkan kebijakan yang mendukung target tersebut. Kami berharap pelaku industri Taiwan berminat investasi di sektor otomotif," kata dia dalam keterangan resmi, Kamis (26/12/2019).

Selain itu, dalam rangka meningkatkan produktivitas, rasio kepemilikan mobil yang ada di Indonesia dianggap perlu dipacu. Merujuk data Gaikindo, rasio kepemilikan mobil di Indonesia baru sekitar 87 unit per 1.000 orang.

Masih rendah di bawah negara tetangga seperti Malaysia, mencapai 450 unit per 1.000 orang maupun Thailand, sebanyak 220 unit per 1.000 orang.

Baca juga: 2025, Kemenperin Bidik Produksi Kendaraan Bermotor 20 Persen Bebas Emisi

Mitsubishi dukung charging station kendaraan listrik di SPBU Pertamina Mitsubishi dukung charging station kendaraan listrik di SPBU Pertamina

Agus menilai, prospek penjualan mobil di Indonesia masih sangat menjanjikan. Sebab, bila bertambah satu unit saja dari 87 ke 88 unit, berarti penjualan naik sekitar 260 ribu unit.

"Dengan populasi penduduk kita 260 juta jiwa, maka room to grow bagi industri ini begitu besar. Jadi, industri otomotif sebagai bagian dari lokomotif sektor manufaktur di dalam negeri. Ini yang mendongkrak PDB nasional menjadi 10 besar di dunia pada 2030," katanya.

Pemerintah menargetkan sekitar 20 persen dari total produksi nasional, atau 2 juta unit pada 2025, adalah sepeda motor listrik. Kemudian produksi mobil bertenaga listrik bisa mencapai 400 ribu unit atau 20 persen dari total produksi pada 2025, dan diharapkan terus meningkat hingga 2029.

Baca juga: Kemenperin Pamerkan Proyek Efisiensi Baterai Sepeda Motor Listrik

BMW Group Indonesia memperkenalkan prototipe garasi khusus untuk mobil listrik di International Motor Show (IIMS) 2018, di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (20/4/2018). Garasi ini dapat menghasilkan listrik dari sinar matahari dan memiliki panel surya di bagian atapnya.KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI BMW Group Indonesia memperkenalkan prototipe garasi khusus untuk mobil listrik di International Motor Show (IIMS) 2018, di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (20/4/2018). Garasi ini dapat menghasilkan listrik dari sinar matahari dan memiliki panel surya di bagian atapnya.

"Untuk itu, kami mengajak industri komponen dan pendukung otomotif bersama-sama menyiapkan diri untuk memasuki era kendaraan listrik maupun teknologi ramah lingkungan lainnya melalui peningkatan SDM dan manajemen industri, serta penguasaan teknologi melalui aktifitas Research and Development," kata Agus.

"Kemudian, kita juga memiliki beragam kemudahan sesuai Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai mulai dari TKDN hingga insentif seperti pengurangan penghasilan bruto sampai 300 persen (super deduction tax)," tambahnya.

Agus berharap, berbagai potensi dan kemudahan yang diberikan ini mampu menarik minat pelaku usaha dan industri Taiwan untuk bergabung atau investasi di Indonesia. Sebab sejauh ini belum ada prinsipal Taiwan yang melakukan kegiatan produksi di tanah air.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X