Jalan Berbayar Segera Diterapkan di Jakarta, Ini Respons Toyota

Kompas.com - 20/11/2019, 09:12 WIB
Perjalanan test drive jajaran mobil hybrid dan PHEV Toyota, dari Banyuwangi-Bali, 9-11 Oktober 2019. CUTENKPerjalanan test drive jajaran mobil hybrid dan PHEV Toyota, dari Banyuwangi-Bali, 9-11 Oktober 2019.
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah pihak mulai memberikan komentar soal penerapan jalan berbayar atau electronic road pricing ( ERP), yang akan diterapkan Badan Pengelola Badan Transportasi Jabodetabek ( BPTJ) di jalur penghubung Jakarta pada 2020.

Setelah Daihatsu, kini giliran Toyota yang ikut memberikan respons positif atas langkah kebijakan yang akan diambil pemerintah untuk menangani kemacetan di Ibu Kota.

Menurut Executive General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM) Fransiscus Soerjopranoto, penerapan ERP merupkan suatu inovasi yang sangat baik dilakukan guna meredam kemacetan di Jakarta.

Baca juga: Daihatsu Respons Positif Penerapan Jalan Berbayar di Jakarta

"Kita lihat dari dua sisi, pertama ERP ini rasanya lebih baik dilakukan, karena negara-negara lain juga sudah ada yang menerapkan. Kenapa demikian, karena ini berupa pungutan pajak atau retribusi, jadi dana yang didapat bisa untuk membangun daerah, terutama perbaikan jalan dan sebagainya," ujar Soerjo saat dihubungi Kompas.com, Selasa (19/11/2019).

ERP di Jalan Merdeka Barat ERP di Jalan Merdeka Barat

Soerjo menjelaskan adanya retribusi pada skema jalan berbayar akan sangat baik karena sifatnya transparan. Hal tersebut merupakan sisi positif dan sudah menjadi hal lazim di beberapa negara.

Namun demikian, senada dengan Daihatus, Toyota juga meminta pemerintah untuk benar-benar memperiapkan lebih dulu infrastruktur transportasi umum pada daerah yang menerapkan ERP.

Mengingat, pastinya akan ada peralihan dari pengguna mobil pribadi ke transportasi umum.

Baca juga: Sudah Seharusnya Jakarta Terapkan Jalan Berbayar

"Di negara lain sudah banyak yang melakukan, bahkan di jam-jam sibuk itu tarifnya bisa tinggi. Tapi dengan catatan, saranan transportasi umumnya juga harus sudah layak dan menjangkau semua," kata Soerjo.

Ketika menanyakan apakah adanya ERP akan mempengaruhi penjualan mobil, karena secara tidak langsung membebankan masyarakat, terutama calon pemilik mobil, Soerjo menjelaskan tidak ada masalah soal penjualan mobil dengan ERP.

Ilustrasi SRP atau jalan berbayarShutterstock Ilustrasi SRP atau jalan berbayar

Menurut Soerjo, mobil saat ini merupakan suatu kebutuhan, bahkan di negara-negara yang sudah menerapkan jalan berbayar, penjualan mobilnya sampai saat ini pun tetap stabil.

"Tidak masalah, di Singapura contohnya, sudah pasang ERP bahkan harga tinggi, penjualannya bagus-bagus saja. Sama halnya dengan negara yang punya tarif parkir tinggi, tetap saja penjualannya baik," kata Soerjo.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X