Belajar dari Kasus Kecelakaan Beruntun, Siapa yang Harus Disalahkan?

Kompas.com - 17/10/2019, 07:42 WIB
Sejumlah mobil terlibat kecelakaan beruntun di Jalan RE Martadinata, Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, Rabu (16/10/2019). KOMPAS.COM/JIMMY RAMADHAN AZHARISejumlah mobil terlibat kecelakaan beruntun di Jalan RE Martadinata, Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, Rabu (16/10/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam beberapa bulan terakhir kecelakaan lalu lintas di Indonesia, begitu banyak. Mulai peristiwa di jalan tol Cipularang, tol Jakarta-Merak, hingga yang terakhir terjadi pada Rabu 16 Oktober 2019 di Jalan RE Martadinata, Ancol, Jakarta Utara.

Selain melibatkan satu hingga dua kendaraan, banyak juga kecelakaan beruntun yang berujung fatal. Contoh kasus terbaru truk pengangkut besi kehilangan kendali karena rem blong sampai akhirnya menabrak beberapa mobil di depannya di flyover jalan RE Martadinata, Ancol.

Belajar dari banyak kasus kecelakaan beruntun, sebenarnya siapa yang harus disalahkan? Jawabannya begitu mudah, karena menurut Kasubdit Gakkum Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya AKBP Muhammad Nasir, tergantung dari keterangan saksi dan peristiwa.

Baca juga: Kecelakaan Cipularang, Bahaya Laten Rem Blong dan Kecepatan Berkendara

Kecelakaan beruntun terjadi di Jalan Tol Tangerang - Merak, Sabtu (14/9/2019). Tiga kendaraan terlibat hingga menyebabkan sembilan orang terluka.Dok. Polda Banten Kecelakaan beruntun terjadi di Jalan Tol Tangerang - Merak, Sabtu (14/9/2019). Tiga kendaraan terlibat hingga menyebabkan sembilan orang terluka.

"Yang dinyatakan bersalah atau diduga itu, berdasarkan hasil penyidikan dengan data, mulai keterangan saksi, korban, barang bukti, keterangah ahli, hingga tersangka," ujar Nasir kepada Kompas.com, Rabu (16/10/2019) malam.

Nasir menjelaskan, setelah berbagai keterangan itu dipeljari dan diselidiki oleh penyidik, maka baru bisa disimpulkan siapa yang bersalah atas kecelakaan beruntun tersebut.

Baca juga: Belajar Dari Kecelakaan Tol Jagorawi, Begini Antisipasi Ban Pecah

"Jadi kita tidak bisa sembarangan, kita harus dilihat dulu semuanya, kita pelajari dulu baru setelah itu disimpulkan sebagai tersangkanya yang mana," kata dia.

Pandangan Pengamat Masalah Transportasi

Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto,stanly Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto,

Sementara itu, Budiyanto, sebagai pengamat masalah transportasi yang juga mantan Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya menjelaskan, pada kasus kecelakaan untuk menentukan siapa yang salah, dan menjadi korban harus melalui suatu berbagai tahapan.

Tahapan tersebut tentunya dilakukan oleh penyidik, seperti olah tempat kejadian perkara, pemeriksaan saksi-saksi, rekontruksi dan masih banyak lagi yang lainnya.

Baca juga: Belajar dari Kecelakaan Bus di Cipali, Perlukah Sekat untuk Sopir?

"Dari proses tersebut penyidik bisa mendapatkan gambaran secara umum kecelakaan itu, dan dapat menentukan siapa yang akan dijadikan tersangka dan siapa yang jadi korban," kata Budiyanto kepada Kompas.com, Rabu (16/10/2019) malam.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X