Selain Listrik, Pemerintah Tak Lupakan Kendaraan "Flexy Engine"

Kompas.com - 01/02/2019, 14:42 WIB
Ilustrasi: Salah satu unit pengolahan kepala sawit yang menghasilkan biodiesel di pabrik PT Pelita Agung Agriindustri, salah satu pabrik milik PT Permata Hijau Group di Duri, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, Senin (27/5/2013) selama ini menjadi tumpuan bagi ratusan petani kepala sawit daerah sekitarnya.

KOMPAS/WINARTO HERUSANSONO Ilustrasi: Salah satu unit pengolahan kepala sawit yang menghasilkan biodiesel di pabrik PT Pelita Agung Agriindustri, salah satu pabrik milik PT Permata Hijau Group di Duri, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, Senin (27/5/2013) selama ini menjadi tumpuan bagi ratusan petani kepala sawit daerah sekitarnya.

JAKARTA, KOMPAS.com - Industri otomotif Indonesia jadi prioritas dalam kebijakan masa depan terkait pencanangan Making Indonesia 4.0. Selain produk kendaraan listrik yang menjadi topik utama, pemerintah juga tidak menutup diri dari kendaraan berbahan bakar fleksibel atau alternatif yang disebut “flexy”.

Salah satu yang sudah dilakukan adalah penggunaan energi terbarukan dari bahan bakar biofuel yang diwujudkan dalam biodiesel B20.

Menurut Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika, kendaraan flexy ini memiliki infrastruktur yang tidak serumit kendaraan listrik sehingga keduanya dapat bersaing.

“Itu (kendaraan bahan bakar fleksibel) yang biaya lebih murah dan infrastruktur yang ada kaya pompa bensin bisa digunakan. Biaya untuk teknologinya tidak semahal yang listrik,” ucap Putu saat ditemui Selasa (29/1/2019) lalu di Kementerian Perindustrian.

Putu menegaskan pemerintah tidak hanya melihat tren kendaraan masa depan, dalam hal ini berpaku pada kendaraan listrik. Saat ini alternatif model kendaraan yang memberikan keuntungan besar bagi konsumen juga dilihat.

Biodiesel B30 Mulai Dicoba Tahun Depan

“Harus mengikuti pasar. Itu namanya mekanisme pasar. Jadi pasar yang menentukan, mana yang lebih cocok di kembangkan. Kami dari pemerintah mengikuti kemauan pasar,” ucap Putu.

Putu berharap Indonesia dapat menjadi trendsetter di pasar global terkait bentuk bahan bakar alternatif. Ini berkaitan dengan bahan bakar fosil yang akan semakin sulit didapat.

Selain itu untuk menumbuhkan produksi kendaraan berbahan bakar alternatif ini, pemerintah akan memberikan insentif. Ini diatur dalam program low carbon emission vehicle (LCEV).

“Saya rasa ke depan penting untuk membuat New Energy Vehicle Center dan juga berbasis pada Green Fuel. Supaya kita dapat mengharmonisasi potensi yang ada. Besarannya insentif akan lebih besar untuk kendaraan listrik, baik hibrida maupun listrik. Karena kemarin ada kekhawatiran dari teman-teman otomotif kalau insentif sama bisa jadi predator bagi mobil listriknya,” ucap Putu.

“Insentif akan diberikan pada kendaraan yang emisinya rendah, seperti LCGC. Kita juga katakan program LCGC akan tetap berlanjut, akan memberikan insentif untuk kendaraan listrik dan flexy engine, terutama biofuel,” ujar Putu.




Close Ads X