Kenali Gejala Microsleep, Jangan Alami Ini saat Mudik

Kompas.com - 04/06/2018, 04:02 WIB
Ilustrasi pengemudi wanita flickr.comIlustrasi pengemudi wanita

JAKARTA, KOMPAS.com - Mudik ke kampung halaman di masa libur Lebaran nanti bisa jadi suatu pekerjaan yang melelahkan. Salah satu yang dapat dialami para pengemudi di jalan adalah gejala microsleep.

Pengamat keselamatan berkendara dan juga pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengungkapkan, info mengenai microsleep tengah banyak beredar di masyarakat.

Ini dapat menjadi tambahan pengetahuan bagi masyakarat yang hendak melakukan perjalanan jauh menggunakan kendaraan.

"Microsleep itu keadaan badan tertidur, hanya sesaat. Mungkin sekitar 1 detik sampai 30 detik. Bisa juga saat mata terbuka, saat tengah berkendara. Ini berbahaya," ucap Jusri saat dihubungi Minggu (3/6/2018).

Sebagai gambaran, misal kendaraan sedang melaju pada kecepatan 70 kilometer per jam (kpj), microsleep selama 3 detik membuat kendaraan menyusur tanpa kendali sejauh 200 meter.

Jusri menjelaskan, microsleep termasuk bagian siklus jam biologis tubuh. Gejala ini biasanya muncul saat otak bekerja stagnan.

Baca juga: Hati-hati, Mengemudi di Cipali Bisa Bikin Mengantuk

"Kalau di jalan raya itu seperti rute yang jalurnya lurus terus. Atau jalan yang sudah sering pengemudi lewati. Sehingga dia tahu letak lubang di mana, kecepatan berapa. Jadinya monoton, tidak ada tantangan," ucap Jusri.

Dihubungkan dengan momen mudik nanti, Jusri mengungkapkan microsleep bisa dirasakan di rute-rute padat kendaraan. Situasi stop and go, kemacetan bisa menimbulkan stress hingga akhirnya lalai dan lelah.

Tanda-tanda orang sudah mengalami microsleep antara lain kaget ketika diklakson oleh kendaraan lain ketika kendaraan tidak bergerak saat yang lain sudah maju. Atau saat diajak berbicara penumpang lain, merespon lalu setelah itu diam.

Jusri menyarankan pengemudi tidak mengabaikan kondisi microsleep yang berawal dari kelelahan ini. Berhenti dan istirahat jadi jalan keluar yang bisa dilakukan.

"Bisa dibuat waktu periodik istirahat, misal setiap perjalanan dua jam sekali berhenti istirahat. Atau saat puasa seperti ini perjalanan bisa lebih singkat dengan sesekali beristirahat," ucap Jusri.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X