Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Soal Regulasi Motor Listrik, AISI Cari “Jalan Terbaik”

Kompas.com - 02/12/2017, 11:22 WIB
|
EditorAgung Kurniawan

Jakarta, KompasOtomotif – Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia (AISI) jadi ujung tombak masa depan bisnis otomotif roda dua dalam negeri, di mana saat ini merek sepeda motor di Indonesia sedang menuggu kepastian soal regulasi kendaraan listrik.

Setelah mengemuka sejak beberapa waktu lalu, draft Peraturan Presiden soal Program Percepatan Kendaraan Bermotor Listrik Untuk Transportasi Jalan, sebagai kelanjutan dari Perpres nomor 22 tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) belum juga rampung.

Menanyakan soal kabarnya kepada Sigit Kumala, Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia, dirinya menyebut kalau pembahasan regulasinya masih berlangsung sampai saat ini. Apakah ada kesulitan? Sigit menjawab kalau sejauh ini masih baik-baik saja. 

Baca juga : Honda Mengaku Produksi Motor Listrik Belum Menguntungkan

“Pembahasannya sejauh ini tidak ada yang menyulitkan dan masih mencari jalan terbaik. So far so good dan yang terpenting adalah konsumen happy,” ujar Sigit kepada KompasOtomotif, Kamis (30/11/2017).

Skuter Listrik Viar Q1 dibeli oleh PLN DisjayaAditya Maulana - KompasOtomotif Skuter Listrik Viar Q1 dibeli oleh PLN Disjaya

Soal perkiraan kapan aturan soal kendaraan listrik roda dua terbit, Sigit menuturkan kalau pembahasannya saja baru akan selesai kemungkinan pada awal 2018 nanti. Sementara terkait waktu implementasi regulasinya sendiri Sigit tak menjawab.

Berbeda dengan mobil, untuk mendorong percepatan komersialisasi atau industrialisasi motor listrik, Kementerian Perindustrian diwakili oleh I Gusti Putu Suryawirawan yang saat itu menjabat Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) kalau motor listrik yang diimpor utuh tidak akan menerima insetif.

Putu menyebutkan alasannya, karena industri dalam negeri sudah mampu membuat motor listrik sendiri seperti Gesits, dengan kandungan lokal mencapai 90 persen. Jadi tak ada alasan bagi para pabrikan asing untuk memaksakan CBU dan harus memproduksi di dalam negeri.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.