Kompas.com - 15/07/2015, 15:11 WIB
EditorAris F Harvenda
Jakarta, KompasOtomotif — Berencana melakukan perjalanan jauh atau mudik malam ini? Sebagian pemudik yang menggunakan mobil memilih untuk memulai perjalanan pada malam hari. Ada pertimbangan, berkendara saat malam merupakan solusi untuk menghindari berpuasa selama perjalanan.

"Berkendara malam hari bukan tidak boleh untuk dilakukan, tetapi pengendara wajib untuk mengurangi laju kendaraan, apalagi saat melintas di luar kota dengan cahaya kurang dan hanya mengandalkan lampu depan mobil saja," ucap Marcell Kurniawan, Training Director Real Driving Center (RDC), seperti dikutip Otomania.com.

Mengemudi dengan kecepatan tinggi, terutama pada malam hari, bisa menimbulkan kondisi yang berbahaya. Kondisi itu disebut dengan overdriving your headlight atau melampaui jarak pijar lampu. Artinya, laju kendaraan Anda terlalu cepat sehingga jarak berhenti yang dibutuhkan kendaraan ketika melakukan pengereman darurat lebih jauh dari panjang sorot lampu. Kondisi ini berbahaya karena Anda tidak akan punya waktu cukup untuk menghentikan mobil dengan aman.

Misalnya, mobil melaju dalam kecepatan 70 kpj, sementara jarak sorot lampu kendaraan itu mencapai 45 meter. Ketika harus melakukan pengereman darurat karena tiba-tiba terdapat benda berbahaya yang tersorot lampu (jarak 45 m), maka pengendara membutuhkan jarak 40 meter untuk berhenti. Artinya, masih tersisa 5 meter lagi untuk sampai ke titik benda itu berada. Dengan demikian, kondisinya tetap aman.

Namun jika mobil melaju dengan kecepatan 80 kpj, sementara jarak sorot lampu tetap 45 meter dan melihat benda berbahaya tersorot lampu (jarak 45 m), maka jarak pengereman darurat menjadi lebih panjang, sampai 60 meter, karena mobil lebih cepat.

Pada kondisi kedua, jika benda itu tiba-tiba muncul dan mengharuskan melakukan pengereman darurat, meski benda tersebut terlihat oleh mata karena masih tersorot lampu, maka dipastikan tabrakan akan tetap terjadi. Pasalnya, jarak pengereman yang dibutuhkan melampaui jarak sorot lampu.

Lampu jauh

Salah satu solusi dari kondisi ini adalah mengandalkan pancaran lampu jauh (high beam). Namun, hal ini tidak bisa dilakukan secara rutin karena bisa mengganggu pandangan orang lain.

"Bisa pakai lampu jauh, cuma jangan sering-sering dan keterusan. Kalau lampu jauh kena mata pengemudi lain, itu ada yang namanya snow blindness. Itu membahayakan pengendara lain dan diri kita juga," ujar Marcell.

Jika kita bertemu dengan pengendara yang terus menyalakan lampu jarak jauh dari arah berlawanan, cara menghindarinya adalah dengan memicingkan mata dan sedikit miring, atau mengalihkan pandangan sesaat agar terhindar dari efek snow blindness.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.